Transcription

ARTIKEL ILMIAHHUBUNGAN KETERSEDIAAN APD, PENGETAHUAN, DANPENDIDIKAN DENGAN PERILAKU PEMAKAIAN APDPADA PEKERJA LAS(Studi di Desa Bangsri Kabupaten Jepara)Oleh :M. AKHIRUDDIN FAMBAYUA2A012025FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKATUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG2018http://repository.unimus.ac.id

iihttp://repository.unimus.ac.id

ABSTRAKHUBUNGAN KETERSEDIAAN APD, PENGETAHUAN, DANPENDIDIKAN DENGAN PERILAKU PEMAKAIAN APD PADAPEKERJA LAS DI DESA BANGSRIKABUPATEN JEPARAM. Akhiruddin Fambayu, Mifbakhuddin, Diki Bima Prasetio.Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah SemarangABSTRAKLatar belakang: Penggunaan APD merupakan tahap akhir dari pengendalian bahaya,walaupun pengunaan APD akan semakin maksimal apabila dilakukan dengan pengendalianlain seperti eliminasi, subsitusi, engineering dan administratif. Manfaat dari penggunaanAPD saat bekerja sangat besar dalam pencegahan kecelakaan kerja, namun dalamkenyataannya masih banyak pekerja yang tidak menggunakan APD saat bekerja. Tujuan:Untuk mengetahui hubungan ketersedinaan APD, pengetahuan, pendidikan dengan perilakupemakaian APD di Desa Bangsri. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik denganmenggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semuapekerja las yang ada di Desa Bangsri berjumlah 30 orang. Variabel bebas ketersediaan APD,pengetahuan dan pendidikan variabel terikatnya adalah perilaku penggunaan APD. Analisisdata dengan uji Chi-square. Hasil: Sebesar 60% pengusaha las telah menyediakan APD, ,Terdapat hubungan ketersediaan APD dengan perilaku pemakaian APD pada pekerja las diBangsri (p 0,000). Tidak terdapat hubungan pengetahuan dengan perilaku pemakaian APDpada pekerja las di Bangsri (p 0,425). Tidak terdapat hubungan Pendidikan dengan perilakupemakaian APD pada pekerja las di Bangsri (p 1,000). Simpulan: Ketersediaan APDmempunyai hubungan dengan perilaku pemakaian APD.KATA KUNCI : Ketersediaan APD, pengetahuan,pendidikan, perilakuABSTRACTBackground: The use of APD is the final stage of hazard control, even though the use ofAPD will be maximized if done with other controls such as elimination, substitution,engineering and administration. The benefits of using APD when working are very large inthe prevention of work accidents, but in reality there are still many workers who do not useAPD while working. Objective: To find out the relationship between APD, knowledge,education and APD use behavior in Bangsri Village. Method: This research is analyticalresearch using a cross-sectional approach. The population in this study were all weldingworkers in Bangsri Village, amounting to 30 people. The independent variable of APDavailability, knowledge and education the dependent variable is the behavior of APD use.Data analysis using Chi-square test. Result:. As many as 60% of welding entrepreneurs haveprovided APD, there is a relationship between the availability of APD and APD use behaviorin welding workers in Bangsri (p 0,000). There is no correlation between knowledge withAPD usage behavior in welding workers in Bangsri (p 0,425). There is no relationshipbetween education and APD use behavior in welding workers in Bangsri (p 1,000).Conclusion: The availability of APD has a relationship with the use of APD.KEYWORD : Availability of APD, Knowledge, Education, Behavior.iiihttp://repository.unimus.ac.id

PENDAHULUANAlat Pelindung Diri (APD) adalah seperangkat alat yang digunakan olehtenaga kerja untuk melindungi seluruh atau sebagian tubuhnya terhadapkemungkinan adanya potensi bahaya kecelakaan kerja pada tempat kerja 1.Pemakaian alat pelindung diri sering dianggap tidak penting ataupun remeh olehpara pekerja, terutama pada pekerja yang bekerja pada sektor informal 2. Padahalpemakaian alat pelindung diri ini sangat penting dan berpengaruh terhadapkeselamatan dan kesehatan kerja pekerja3. Kedisiplinan para pekerja dalammengunakan alat pelindung diri tergolong masih rendah sehingga resikoterjadinya kecelakaan kerja yang dapat membahayakan pekerja cukup besar 4.Akibat yang ditimbulkan dari pekerja pengelasaan yang tidak menggunakan APDantara lain dapat menyebabkan iritasi mata, mata berair, kulit wajah terklupas,tangan terbakar, sesak nafas bahkan sampai pada kematian 5.Bagi pekerja informal sebagian besar perilaku pemakaian APD masihsangat rendah hanya 45,8%4, dalam penelitian yang lain ditemukan hanya 15,6%pekerja informal yang menggunakan APD secara lengkap 6, terutama di negaraberkembang termasuk di Indonesia, entah disadari atau tidak masih kita temukanpara pekerja informal terutama pekerja las yang tidak menggunakan APD secaralengkap, kurangnya perhatian terhadap pemakaian APD pada pekerja memicutingginya Angka Kecelakaan kerja baik di dunia maupun ditanah air 7.Angka kecelakaan kerja karena tidak menggunakan APD di seluruh duniaterjadi lebih dari 337 juta per tahun. Setiap hari, 6.300 orang meninggal karenakecelakaan kerja atau penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan yang diakibatkankarena kelailaian tidak menggunakan APD. Sekitar 2,3 juta kematian per tahunterjadi di seluruh dunia8, angka kecelakaan kerja di Indonesia tahun 2017mencapai 99.491 kasus. Jumlah tersebut meningkat jika dibandingkan dengantahun sebelumnya. Pada tahun 2013 sebanyak 83.714 kasus, tahun 2014 sebanyak94.736 kasus, tahun 2015 sebanyak 96.314 kasus, dan tahun 2016 sebanyak98.711 kasus9.Angka kecelakaan kerja dikarenakan tidak menggunakan APD di JawaTengah pada tahun 2017 mencapai 461 kasus, 9 kasus meninggal dunia dan lainyaivhttp://repository.unimus.ac.id

mengalami luka berat dan ringan10, meskipun angka ini menurun jikadibandingkan dengan tahun sebelumnya pada tahun 2016 mencapai 584 kasus10,14 kasus meninggal dunia dan lainya mengalami luka berat dan ringan 9.Adapun angka kecelakaan kerja di Jepara mencapai 19 kasus, meliputi 2orang meningal dunia, 5 orang menderita luka berat, 12 orang mengalami lukaringan11. Diperkirakan pekerja di Indonesia berjumlah 95.7 juta orang yang terdiridari 58.8 juta tenaga kerja laki-laki dan 36.9 juta tenaga kerja perempuan. Sekitar60% dari jumlah tersebut bekerja dalam sektor informal 12. Oleh karena itupemerintah perlu dilakukan pengawasan dan pelaporan mengenai tingkatkecelakaan kerja di sektor informal dari risiko dan bahaya yang terdapat di tempatkerja selain pelaporan kecelakaan kerja dari sektor formal 13.Proses pengelasan merupakan proses penyambungan dua potong logamdengan pemanasan sampai keadaan plastis atau cair, dengan atau tanpa tekanan.Selama proses itu berlangsung sering menimbulkan bahaya-bahaya misalnyatertimpa benda yang berat, luka bakar pada bagian wajah, tangan dan kaki akibatpercikan bunga api, penyakit mata akibat pajanan sinar UV pengelasan, terpaparsinar las, debu, asap las, dan luka bakar14. Pengelasan sektor informal yang beradadi Desa Bangsri Kabupaten Jepara terdapat 11 industri rumahan dan merupakanpusat industri las di Kabupaten Jepara dengan berjumlahpekerja 30 orang.Berdasarkan survai pendahuluan kepada 10 pekerja las diperoleh informasi bahwa8 dari 10 pekerja las tidak memakai APD saat bekerja, tidak tersedianya sebagianAPD di tempat kerja, kurangnya pengetahuan dalam penggunaan APD dan 7 dari10 responden hanya pendidikan SD dan SMP.METODEPenelitian ini merupakan penelitian observasional analitik, denganpendekatan Cross Sectional. Penelitian ini digunakan untuk melihat hubunganKetersediaan APD, Pendidikan, dan Pengetahuan dengan perilaku pemakaianAlat Pelindung Diri (APD) pekerja las di Desa Bangsri Kabupaten Jepara.Penelitian ini dimulai dari mengidentifikas para pekerja las yang bekerja dibengkel las Bangsri kemudian secara belah lintang diteliti sehingga diperolehvhttp://repository.unimus.ac.id

hubungan Ketersediaan APD, Pendidikan, dan Pengetahuan dengan perilakupemakaian Alat Pelindung Diri (APD) pekerja las di Desa Bangsri KabupatenJepara. Populasi dalam penelitian ini Populasi dalam penelitian ini adalah semuapekerja las yang ada di Desa Bangsri berjumlah 30 orang.Variabel bebas dalam penelitian ini ketersediaan APD, Pengetahuan danPendidikan sedangkan variable terikatnya adalah perilaku pemakaian APD papapekerja las di Bangsri. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara statistikmeliputi analisis univariat untuk mendeskripsikan variabel penelitian dan analisisbivariat untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan variabeldependen dengan menggunakan uji Chi square.HASIL DAN PEMBAHASANHasil1. Karakteristik respondenPada tabel 1 dapat diketahui gambaran mengenai usia, lama kerka danpendidikan yang merupakan sampel dari penelitian ini.Tabel 1 Deskripsi Karakteristik Subjek PenelitianNo123KarakteristikUsia- 20 tahun- 20 – 29 tahun- 30 – 39 tahun- 40 tahunLama Kerja- 10 tahun- 10 tahunPendidikan- Tidak Sekolah- SD- SMP- SMA- PTTotalJumlahPresentase ,026,740,06,7100%Data karakteristik subjek penelitian dapat diketahui bahwa usiaresponden berkisar antara 20 tahun sampai dengan 62 tahun denganrerata 30 tahun dan standar deviasi 8,7 tahun dan sebagian besar berumurlebih dari 30 sampai dengan 39 tahun sebanyak 12 orang (40,0%). Lamakerja responden berkisar antara 1 tahun sampai dengan 36 tahun denganvihttp://repository.unimus.ac.id

rerata 11,3 tahun tahun dan standar deviasi 7,9 tahun, sebagian besarmasa kerja kurang dari 10 tahun sebanyak 18 orang (60%). Sebagianbesar mempunyai latar belakang pendidikan SMA sebanyak 12 orang(40%), kemudian denganlatar belakang pendidikan SMP 8 orang(26,7%), SD 6 orang (20%), Lulus perguruan tinggi dan tidak sekolahmasing-masing 2 orang (6,7%).2. Hubungan Variabel PenelitianTabel 2. Variabel PenelitianNo123VariabelKetersediaan APD- Tidak tersedia- TersediaPengetahuan- Kurang dan cukup- BaikPendidikan- Pendidikan rendah(tidak sekolah, SD,SMP)- Pendidikantinggi(SMA, PT)Perilaku Pemakaian APDTidak MemakaiMemakain%n%16 (94,1%)1 (5.9%)5 (33.3%)10 (66,7%)p0,00014 (73,7%)9 (81,8%5 (26,3%)2(18,2%)0,42511 (68,8%)5 (31,3%)1,0009 (64,3%)5 (35,7%)Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa variabel yang mempunyaihubungan dengan perilaku peakaian APD pada pekerja Las di Desa Bangsriadalah Ketersediaan APD yang disediakan oleh pengusaha Las (p 0,000),pengusaha las yang menyediakan APD 69,2% digunakan oleh pekerja las,sedangkan yang tidak tersedia maka pekerja las tidak ada yang memakai APDkarena memang tidak ada yang bisa dipakai. Sedangkan variabel pengetahuan(p 0,425) tidak mempunyai hubungan dengan perilaku pemakaian APD danpendidikan (p 1,000) tidak mempunyai hubungan dengan perilaku pemakaianAPD oleh pekerja Las saat bekerja.viihttp://repository.unimus.ac.id

PembahasanPenggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan tahap akhir darimetode pengendalian kecelakaan maupun penyakit akibat kerja. Meskipundemikian, penggunaan APD akan menjadi sangat penting apabila pengendaliansecara teknis dan administratif telah dilakukan.Usaha bidang pengelasanmerupakan salah satu industri informal yang kurang memiliki fasilitas memadaiterkait keselamatan kesehatan kerja. Pengelasan merupakan suatu bagian yangmemiliki resiko dan bahaya yang tinggi terhadap pekerja, telah terjadi 200 kasuskematian yang berhubungan dengan kegiatan pengelasan pada umumnyadisebabkan karena kurangnya kehati-hatian, cara memakai alat yang salah,pemakaian pelindung diri yang kurang baik, dan kesalahan-kesalahan lainya20.Secara umum penyebab kecelakaan dikarenakan oleh faktor manusia(unsafe action) dan faktor lingkungan (unsafe condition). Berdasarkan hirarkipengendalian resiko bahaya dapat dikendalikan dengan cara eliminasi, ratifdanpenggunaanAPD.Penggunaan APD terhadap tenaga kerja merupakan pilihan terakhir, apabilaeliminasi, substitusi, pengendalian teknis dan pengendalian administratif tidakdapat dilakukakn atau dapat dilakukan namun masih terdapat potensi bahayaterhadap pekerja, salah satunya, pemakaian pelindung diri yang kurang baik, dankesalahan-kesalahan lainya24.Perilaku pemakaian APD dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor-faktorbaik dari dalam diri maupun dari luar subjek. Selain itu ada beberapa faktor yangmemungkinkan seorang pekerja berperilaku dalam menggunakan APD pada saatmelakukan pekerjaannya. Sesuai dengan teori Lawrence Green, terdapat tigafaktor yaitu faktor predisposisi, faktor enabling, faktor reinforcing22. Teori inimenjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang antaralain: pengetahuan, sikap (predisposisi) kemudian dipengaruhi oleh faktorpendukung (enabling) yaitu ketersediaan atau fasilitas dan sarana prasaranakemudian diperkuat dengan adanya faktor pendorong (reinforcing) yaitu adanyapengawasan dari pihak perusahaan15.viiihttp://repository.unimus.ac.id

Proses pengelasan merupakan proses penyambungan dua potong logamdengan pemanasan sampai keadaan plastis atau cair, dengan atau tanpa tekanan.Selama proses itu berlangsung sering menimbulkan bahaya-bahaya misalnyaterpapar sinar las, debu, asap las, dan luka bakar 30. Untuk menghindari haltersebut salah satu upaya pencegahan bahaya industri pengelasan yaitu denganmenggunakan APD dikarenakan lebih efektif. Akibat yang ditimbulkan daripekerja pengelasaan yang tidak menggunakan APD antara lain dapatmenyebabkan iritasi mata, mata berair, kulit wajah terklupas, tangan terbakar,sesak nafas.Data hasil observasi berdasarkan cheklist sebagian besar pekerja las tidakmenggunakan APD sebesar 66,7%, hal ini disebabkan karena tidak tersedianyaAPD di tempat kerja, kurangnya pengetahuan dan pendidikan. Analisis statistikbivariat menunjukkan terdapat ketersediaan APD mempunyai hubungan bermakna(p 0,000) dengan perilaku penggunaan APD pada pekerja las, jika APD tersedia69,2% pekerja las memakai APD dan jika APD tidak disediakan maka tidak adapekerja las yang menggunakan APD. Sementara untuk variabel pengetahuan (p 0,425) dan pendidikan (p 1,00) tidak mempunyai hubungan dengan perilakupenggunaan APD.1. Hubungan Ketersediaan APD dengan Perilaku Pemakaian APD.Ketersediaan APD mempunyai hubungan dengan perilaku pemakaianAPD pada pekerja Las. Analisis Univariat menujukkan bahwa p 0,000sehingga bermakna karena p 0,05. Sebagian besar pengusaha las di DesaBangsri menyediakan APD bagi para pekerjanya sebesar 60%, dan yang tidakmenyediakan APD hanya 40% saja. Pada analisis Bivariat menunjukkanpengusaha yang menyediakan APD 69,2 % pekerja las memakai APDsedangkan pada pengusaha las yang tidak menyediakan APD maka tidak adapekerja las yang memakai APD.Dalam UU No. 1 Tahun 1970 pasal 14 butir c menyatakan bahwapengurus (pengusaha) diwajibkan untuk menyediakan secara cuma-cuma,semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja yang beradadibawah pimpinannya dan menyediakan bagi setiap orang lain yang memasukiixhttp://repository.unimus.ac.id

tempat kerja tersebut, disertai dengan petunjuk-petunjuk yang diperlukanmenurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli-ahli keselamatan kerja31.Perlindungan perorangan harus dianggap sebagai garis pertahananterakhir, karena sering peralatan ini tidak praktis untuk dipakai danmenghambat gerakan28. Karenanya tidak mengherankan bila kadangkaladikesampingkan oleh pekerja. Karena peralatan dirancang untuk mencegahbahaya luar agar tidak mengenai tubuh pekerja, ia menahan panas tubuh danuap air di dalamnya, sehingga pekerja menjadi gerah, berkeringat dan cepatlelah. Oleh karena itu alat pelindung diri yang dianggap sebagai garispertahanan terakhir harus disediakan sesuai dengan kebutuhan dan cocokuntuk setiap pekerja yang menggunakannya agar tidak timbul adanyakecelakaan disebabkan karena ketidaknyamanan pekerja dalam menggunakanAPD tersebut27.Berdasarkan penelitian sejalan dengan penelitian yang dilakukan diPedurungan Semarang diketahui bahwa responden yang menyatakanketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) tidak lengkap dan memiliki sikapyang kurang baik (69,8%), sedangkan responden yang menyatakanketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dan memiliki sikap yang baik(88,1%)32. Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p 0,002 (P value 0,05)dengan (95% CI) maka ada hubungan antara ketersediaan Alat Pelindung Diri(APD) dengan perilaku penggunaan APD33. Ketersediaan APD diukurdengan chclist ketersediaan APD di tempat pengelasan, jumlah nilaikeseluruhan ada 10. Kategori tersediacukup apabila nilai yang terkumpul 6,0, tersedia kurang apabila nilai yang terkumpul 6,0, dan tidak tersediaapabila nilainya 0342. Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pemakaian APD.Pengetahuan responden tentang pemakaian APD sebagaian besar baik45,5% sedangkan yang berpengatahuan dan kurang tentang tentang perilakupemakaian sebanyak 26,3%. Masih adanya pengetahuan yang kurang tentangpemakaian APD disebabkan kurangnya pengetahuan yang diterima olehpekerja Las. Beberapa jawaban responden yang banyak salahnya yaituxhttp://repository.unimus.ac.id

adanya pemahaman dari pekerja las bahwa pemakaian APD hanya untukpara pekerja saja tidak untuk perusahaan.Penelitian ini sejalan dengan dengan penelitian yang dilakukan diSingajaya, Indramayu yang menunjukkan sebagian besar pekerja lasmempunyai pengetahuan kurang pada pemakaian APD, hanya 40% sajapekerja yang mempunyai pengetahuan baik, hal ini disebabkan karenasebagian besar pekerja las hanya berpendidikan SD dan SMP dan beberapayang berpendidikan SMA20. Selain faktor pendidikan yang menyebabkankurangnya pengetahuan tentang penggunaan APD adalah tidak adanyasosialisasi penggunaan APD dan tidak adanya dukungan dari pihak pengelolabengkel las itu sendiri.Hasil penelitian diatas sesuai dengan pendapat Green yangmenyatakan bahwa pengetahuan merupakan salah satu faktor berpengaruh(predisposing factors) yang mendorong atau menghambat individu untukberperilaku (dalam hal ini penggunaan APD)15. Pengetahuan merupakanfaktor individu (person) yang sangat penting untuk terbentuknya perilakuseseorang, bila pekerja mempunyai sifat kognitif dalam menilai sesuatu(penggunaan APD)23. Pengetahuan yang didapat pekerja merupakanpengalaman dan pelatihan yang didapat dari tempat kerja sebelumnya(perusahaan). Sehingga perilaku penggunaan APD yang ditunjukkan olehpekerja di bengkel las merupakan kesadaran pekerja. Pengetahuan yangdidapatkan merupakan analisis pekerja terhadap potensi bahaya jika tidakmenggunakan APD yang didasarkan kemampuan pekerja untuk menjabarkan,membedakan, memisahkan dan mengelompokkan bahaya yang ada ditempatkerja. Walaupun mengetahui bahaya dan risiko yang mengharuskanpenggunaan APD, masih ada pekerja yang tidak menggunakan APD.Faktor pengetahuan mempunyai pengaruh sebagai dorongan awalbagi seseorang dalam berprilaku17. Pengetahuan merupakan salah satu faktoryang mempermudah dan mendasari untuk terjadinya perilaku tertentu, padaumumnya orang yang berprilaku baik sudah mempunyai pengetahuan yangxihttp://repository.unimus.ac.id

baik pula, sebaliknya perilaku yang kurang pada seseorang didasari olehpengetahuan yang kurang.3. Hubungan Pendidikan dengan Perilaku Pemakaian APD.Pendidikan tidak mempunyai hubungan dengan perilaku pemakaianAPD pada pekerja Las. Analisis Univariat menujukkan bahwa p 1,000sehingga tidak bermakna karena p 0,05. Sebagian besar yang berperilakumemakai APD pada pekerja las saat bekerja adalah berpendidikan tinggi(SMA,PT) sebanyak 35,7% lalu lulusan berpendidikan rendah (tidak sekolah,SD, SMP) 31,3%. Hal ini di tunjang dengan kurangnya faktor pendukungberupa poster dan rambu-rambu yang dipasang di setiap unit bagian kerja darihasil observasi yang dilakukan37.Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang menyatakantidak ada hubungan pendidikan dengan perilaku peakaian APD. pendidikanyang tinggi tidak menjamin seseorang akan memakai APD yang benar saatbekerja37. Penelitian ini diperkuat dengan penelitian yang dilakukan diwilayah Jakarta yang menyatakan bahwa pendidikan tidak ada hubunganyaperilaku peakaian APD.Tingkat pendidikan adalah tingkat kemampuan seseorang danpengembangan kepribadian pada lembaga formal atau didalam sekolah yangdidasarkan pada ijazah terakhir yang dimilikinya15. Dalam hal ini yaitupendidikan yang pernah ditempuh oleh pekerja las yang ada di Desa Bangsridari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggiKESIMPULANSebagian besar pengrajin las di Desa Bangsri menyediakan APDsebanyak 43,3%, sebagian besar responden mempunyai pengetahuan kurang dancukup tentang APD sebanyak 26,3%. Sebagian besar pekerja las di Desa Bangsritidak memakai APD secara lengkap sebanyak 66,7%. Terdapat hubunganketersediaan APD dengan perilaku pemakaian APD pada pekerja las di Bangsri.Tidak terdapat hubungan pengetahuan dengan perilaku pemakaian APD padaxiihttp://repository.unimus.ac.id

pekerja las di Bangsri. Tidak terdapat hubungan Pendidikan dengan perilakupemakaian APD pada pekerja las di Bangsri.SARANBagi Pekerja Las agar menggunakan APD saat bekerja. Bagi pengusahaLas diharapkan memberikan fasilitas alat APD di tempat kerja. Bagi Pemerintahhendaknya melakukan pembinaan dan pengawasan bagi bengkel las secara terusmenerus dalam pemakaian APD.xiiihttp://repository.unimus.ac.id

DAFTAR PUSTAKA1. Aditama T, Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta. UI-Press. 20122. A.M. Sugeng Budiono, R.M.S Jusuf dan Adriana Pusparini, BungaRampai Higiene Perusahaan Ergonomi (HIPERKES) dan Kesehatan danKeselamatan Kerja, Semarang. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.2008,3. Ramli, S. Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja OHSAS18001. Jakarta: Dian Rakyat, 2010.4. Sugiharto. Upaya Kesehatan Kerja Sektor Informal di Indonesia.Kementrian Kesehatan RI. Jakarta. 2014.5. Vitriyansyah. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi PerilakuPekerja Pengelasan Industri Informal Dalam Penggunaan Alat PelindungDiri (APD) di Jalan Raya Bogor-Dermaga, Kota Bogor tahun 2015.Depok. Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2016.6. Supri Erniatin. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Kesehatan KerjaDengan Kejadian Penyakit Akibat Kerja Pada Pekerja Las di DesaPlosokerep Kecamatan Trisi Kabupaten Indramayu Tahun 2014. 2014.7. Harrington, J.M dan F.S. Gill, Buku Saku Kesehatan Kerja, Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2013.8. International Labour Office. Buku Pedoman Pencegahan Kecelakaan.Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. 2017.9. Jamsostek. Kasus Kecelakaan Kerja Tahun 2017. Dapat diakseshttp://www.jamsostek.co.id/content file/ar jamsostek lores 8812.pdf.Diakses pada 4 Februari 2018 jam 13.05 WIB. 2018.10. Dinsosnakertran propinsi Jawa Tengah. Laporan SIMK3 Propinsi JawaTengah Tahun 2017. 2018.11. Dinsosnakertran Kabupaten Jepara. Laporan SIMK3 Kabupaten JeparaTahun 2017. 2018.12. Tarwaka. Keselamatan dan Kesehatan Kerja,Manajemen danImplementasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Tempat Kerja.Harapan Press: Surakarta. 2008.13. Disnakertrans RI, Modul Pelatihan Hiperkes dan Keselamatan Kerjadengan Materi Alat Pelindung Diri, Semarang: Disnakertrans RI. 2012.14. Linggasari. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perilaku PenggunaanAlat Pelindung Diri di Departemen Engineering PT. Kiat Pulp & Paperxivhttp://repository.unimus.ac.id

Tbk. Tangerang tahun 2015. Depok: Jurnal Kesehatan MasyarakatUniversitas Indonesia. 2016.15. Notoadmodjo. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT. RinekaCipta. 2013.16. Harsono Wiryosumarto. Teknologi Pengelasan Logam. Jakarta: PradnyaParamita. 2000.17. Namora Lumongga Lubis, Arfah Mardiana Lubis. Hubungan pengetahuandan sikap dengan pemakaian APD pada karyawan pada PT. Sumpramedan. Journal K3 Fakultas Kesehatan Masyarakat UniversitasHasanuddin. Makasar. 2015.18. Khoirul muntiana. Hubungan pengetahuan, sikap, dan masa kerjakaryawan terhadap Pemakaian APD PT Wijaya Karya Beton Boyolali tbk.Journal K3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Surakarta.Surakarta. 2014.19. Aldy Tumalun,Woodford, Harvani Boky. Hubungan antara Pengetahuan,sikap, dan masa kerja dengan Pemakaian APD pada Tenaga laboratoriumRumah Sakit Tk III R W Mongisidi. Sains Medika.Vol 5 (No. 1 Januari –Juni 2015 : 30-33). 2015.20. Agung Budiyanto, Ismail. Pengetahuan dan Sikap Pekerja dalamPemakaian Alat Pelindung Diri pada Industri Informal pengelasan diDesa Singajaya, Indramayu. Jurnal keselamatan dan Kesehatan kerjaIndonesia. tahun XXVI nomor 7. 2016.21. Zaenal Abidin, Tri Wulan, Tjiptono, Shandono Dahlan. Pengaruhpengetahuan Pemakaian APD dan sikap terhadap kesadaran BerperilakuPemakaian APD di lab. CNC dan PLC SMK Negeri 3 Yogyakarta Jurnalkesehatan dan keselamatan kerja, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.2017.22. Notoatmodjo. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta; 2010.23. A. M. Sugeng Budiono, Bunga Rampai Hiperkes dan Keselamatan Kerja,Semarang: Badan Penerbit UNDIP. 2013.24. Daryanto, Keselamatan dan Kesehatan Kerja Bengkel, Jakarta: PT. BinaAdiaksara. 2013.25. Kementrian Kesehatan RI, Pedoman Teknis, Upaya Kesehatan Kerja bagipekerja las, Jakarta: Kemenkes RI. 2013.26. Maman Suratman, Teknik Mengelas, Bandung: Pustaka Grafika. 2017.27. Niken Diana Hapsari, Penggunaan Alat Pelindung Diri bagi TenagaKerja, Semarang: Bunga Rampai Hiperkes dan KK UNDIP. 2013.xvhttp://repository.unimus.ac.id

28. Suma’mur P.K, Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, Jakarta: PT.Gunung Agung. 2010.29. Republik Indonesia. Keputusan Menteri Kesehatan Republik IndonesiaNomor 1405/MENKES/SK/XI/ Tentang Persyaratan KesehatanLingkungan Kerja Perkantoran dan Industri. 2002.30. Suratman M. Teknik Mengelas Asetilen, Brazing dan Las Busur Listrik.Bandung : Pustaka Grafika. 2015.31. UU No 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja32. Rawar P., Dian. Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kapasitas VitalParu Pada Pekerja Bengkel Las di Pisangan Ciputat Tahun 2015. Jakarta:Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat UIN Syarif HidayatullahJakarta. 2016.33. Prabowo, Riyadi. Analisis Risiko Kegiatan Proses Pengelasan DenganMenggunakan Mesim Las PSW (Portable Spot Welding) welding PT.Indomobil Suzuki International Plant Tambun II Tahun 2014. Depok:Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.2015.34. Arikunto. Manajemen Penelitian. Rineka Cipta: Jakarta. 2005.35. Agung Budiyanto, Ismail. Pengetahuan dan Sikap Pekerja dalamPenggunaan Alat Pelindung Diri pada Industri Informal Pengelasan diDesa Singajaya, Indramayu. 2015.36. Sriwidharto. Petunjuk Kerja Las. Jakarta: PT.Pradnya Paramita. 2011.37. Wibowo, Arianto. Faktor – faktor yang Berhubungan dengan PerilakuPenggunaan Alat Pelindung Diri di Areal Pertambangan PT. Antam,TbkUnit Bisnis Pertambangan Emas Pongkor Kabupaten Bogor. Jakarta:Skripsi Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Islam. NegeriJakarta 2016.38. Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, Teras, Yogyakarta. 2009.39. Jepara dala angka, BPS Kabupaten Jepara, 2017xvihttp://repository.unimus.ac.id

Proses pengelasan merupakan proses penyambungan dua potong logam dengan pemanasan sampai keadaan plastis atau cair, dengan atau tanpa tekanan. Selama proses itu berlangsung sering menimbulkan bahaya-bahaya misalnya terpapar sinar las, debu, asap las,