Transcription

Hak Cipta 2014 pada Kementerian Pendidikan dan KebudayaanDilindungi Undang-UndangMILIK NEGARATIDAK DIPERDAGANGKANDisklaimer: Buku ini merupakan buku guru yang dipersiapkan Pemerintah dalam rangkaimplementasi Kurikulum 2013. Buku guru (BPG) ini disusun dan ditelaah oleh berbagaipihak di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan dipergunakandalam tahap awal penerapan Kurikulum 2013. Buku ini merupakan “dokumen hidup” yangsenantiasa diperbaiki, diperbaharui, dan dimutakhirkan sesuai dengan dinamika kebutuhandan perubahan zaman. Masukan dari berbagai kalangan diharapkan dapat meningkatkankualitas buku ini.Katalog Dalam Terbitan (KDT)Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan : buku guru / Kementerian Pendidikandan Kebudayaan.-- Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.x, 262 hlm. : ilus. ; 25 cm.Untuk SMP/MTs Kelas VIIIISBN 978-602-1530-90-0 (jilid lengkap)ISBN 978-602-1530-92-4 (jilid 2)1. Bahasa Indonesia — Studi dan PengajaranII. Kementerian Pendidikan dan KebudayaanKontributor NaskahPenelaahPenyelia Penerbitan:::Buku Guru Kelas VIII SMP/ MTs410Fairul Zabadi dan Sutejo.Hasanuddin W.S. dan M. Abdullah.Pusat Kurikulum dan Perbukuan. Balitbang KemdikbudCetakan Ke-1, 2014Disusun dengan huruf Minion Pro, 11 ptiiI. Judul

Buku ini didedikasikan kepada segenap anak bangsa.Masa depan bangsa Indonesia ada di pundak generasi muda.Martabat bangsa Indonesia merupakan harga diri bangsa.Martabat bahasa dan sastra Indonesia adalah harga diri bangsa.Kedaulatan bahasa Indonesia penopang NKRI.Moto Kurikulum 2013Bahasa Indonesia penghela danpembawa pengetahuan.Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuaniii

KataPengantarKurikulum 2013 menyadari peran penting bahasa sebagai wahana untukmenyebarkan pengetahuan dari seseorang ke orang-orang lain. Penerima akandapat menyerap pengetahuan yang disebarkan tersebut hanya bila menguasaibahasa yang dipergunakan dengan baik, dan demikian juga berlaku untuk pengirim.Ketidaksempurnaan pemahaman bahasa akan menyebabkkan terjadinya distorsidalam proses pemahaman terhadap pengetahuan. Apapun yang akan disampaikanpendidik kepada peserta didiknya hanya akan dapat dipahami dengan baik apabilabahasa yang dipergunakan dapat dipahami dengan baik oleh kedua belah pihak.Dalam Kurikulum 2013 yang dirancang untuk menyongsong model pembelajaranAbad 21, dimana di dalamnya akan terdapat pergeseran dari siswa diberi tahu menjadisiswa mencari tahu dari berbagai sumber belajar melampaui batas pendidik dan satuanpendidikan, peran bahasa menjadi sangat sentral. Kurikulum 2013 menempatkanBahasa Indonesia sebagai penghela mata pelajaran lain dan karenanya harus beradadi depan semua mata pelajaran lain. Apabila peserta didik tidak menguasai matapelajaran tertentu harus dipastikan bahwa yang tidak dikuasainya adalah substansimata pelajaran tersebut, bukan karena kelemahan penguasaan bahasa pengantar yangdipergunakan.Sejalan dengan peran diatas, pembelajaran Bahasa Indonesia untuk SMP/MTsKelas VIII yang disajikan dalam buku ini disusun dengan berbasis teks, baik lisanmaupun tulis, dengan menempatkan Bahasa Indonesia sebagai wahana pengetahuan.Didalamnya dijelaskan berbagai cara penyajian pengetahuan dengan berbagai macamjenis teks. Pemahaman terhadap jenis, kaidah dan konteks suatu teks ditekankansehingga memudahkan peserta didik menangkap makna yang terkandung dalamsuatu teks maupun menyajikan gagasan dalam bentuk teks yang sesuai sehinggamemudahkan orang lain memahami gagasan yang ingin disampaikan.Sebagai bagian dari Kurikulum 2013 yang menekankan pentingnya keseimbangankompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan, kemampuan berbahasa yang dituntuttersebut dibentuk melalui pembelajaran berkelanjutan: dimulai dengan meningkatkankompetensi pengetahuan tentang jenis, kaidah dan konteks suatu teks, dilanjutkandengan kompetensi keterampilan menyajikan suatu teks tulis dan lisan baik terencanamaupun spontan, dan bermuara pada pembentukan sikap kesantunan berbahasa danpenghargaan terhadap Bahasa Indonesia sebagai warisan budaya bangsa.ivBuku Guru Kelas VIII SMP/ MTs

Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan siswa untuk mencapaikompetensi yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalamKurikulum 2013, siswa diajak menjadi berani untuk mencari sumber belajar lainyang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran guru dalam meningkatkan danmenyesuaikan daya serap siswa dengan ketersediaan kegiatan pada buku ini sangatpenting. Guru dapat memperkayanya dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatanlain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari lingkungan sosial dan alam.Implementasi terbatas pada tahun ajaran 2013/2014 telah mendapat tanggapan yangsangat positif dan masukan yang sangat berharga. Pengalaman tersebut dipergunakansemaksimal mungkin dalam menyiapkan buku untuk implementasi menyeluruh padatahun ajaran 2014/2015 dan seterusnya. Walaupun demikian, sebagai edisi pertama,buku ini sangat terbuka dan terus dilakukan perbaikan untuk penyempurnaan. Olehkarena itu, kami mengundang para pembaca memberikan kritik, saran dan masukanuntuk perbaikan dan penyempurnaan pada edisi berikutnya. Atas kontribusi tersebut,kami mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat memberikan yangterbaik bagi kemajuan dunia pendidikan dalam rangka mempersiapkan generasiseratus tahun Indonesia Merdeka (2045).Jakarta, Januari 2014Menteri Pendidikan dan KebudayaanMohammad NuhBahasa Indonesia Wahana Pengetahuanv

PrawacanaPembelajaran TeksPuji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena hanya ataspetunjuk dan hidayah-Nya, penyusunan buku Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuandapat diselesaikan. Dalam keterbatasan waktu, dengan dukungan para penyusun dankonsultan serta penelaah, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BadanBahasa) akhirnya dapat mewujudkan buku untuk siswa kelas VIII SMP/MTs.Buku ini dipersiapkan untuk mendukung kebijakan Kurikulum 2013 yangmempertahankan bahasa Indonesia berada dalam daftar pelajaran di sekolah. Didalam buku ini ditegaskan pentingnya keberadaan bahasa Indonesia sebagai pembawapengetahuan (carrier of knowledge). Berdasarkan paradigma baru tersebut, BadanBahasa telah terpanggil untuk bertindak menjadi agen perubahan pembelajaranbahasa Indonesia di sekolah. Perubahan pembelajaran itu tercermin dalam buku yangdirancang berbasiskan teks ini.Melalui buku ini, diharapkan siswa mampu memproduksi dan menggunakanteks sesuai dengan tujuan dan fungsi sosialnya. Dalam pembelajaran bahasa yangberbasiskan teks, bahasa Indonesia diajarkan bukan sekadar sebagai pengetahuanbahasa, melainkan sebagai teks yang berfungsi untuk menjadi sumber aktualisasi diripenggunanya pada konteks sosial-budaya akademis. Teks dipandang sebagai satuanbahasa yang bermakna secara kontekstual.Pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks dilaksanakan dengan menerapkanprinsip bahwa (1) bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan sematamata kumpulan kata-kata atau kaidah-kaidah kebahasaan, (2) penggunaan bahasamerupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan untuk mengungkapkanmakna, (3) bahasa bersifat fungsional, yaitu penggunaan bahasa yang tidak pernahdapat dilepaskan dari konteks karena dalam bentuk bahasa yang digunakan itutercermin ide, sikap, nilai, dan ideologi penggunanya, dan (4) bahasa merupakansarana pembentukan kemampuan berpikir manusia. Sehubungan dengan prinsipprinsip itu, perlu disadari bahwa di dalam setiap teks terdapat struktur tersendiriyang satu sama lain berbeda. Sementara itu, dalam struktur teks tercermin strukturberpikir. Dengan demikian, makin banyak jenis teks yang dikuasai siswa, makinbanyak pula struktur berpikir yang dapat digunakannya dalam kehidupan sosial danviBuku Guru Kelas VIII SMP/ MTs

akademiknya nanti. Hanya dengan cara itu, siswa kemudian dapat mengonstruksiilmu pengetahuannya melalui kemampuan mengobservasi, mempertanyakan,mengasosiasikan, menganalisis, dan menyajikan hasil analisis secara memadai.Teks dapat diperinci ke dalam berbagai jenis, seperti deskripsi, penceritaan(recount), prosedur, laporan, eksplanasi, eksposisi, diskusi, surat, iklan, catatan harian,negosiasi, pantun, dongeng, anekdot, dan fiksi sejarah. Semua jenis teks itu dapatdikelompokkan ke dalam teks cerita, teks faktual, dan teks tanggapan. Dua kelompokyang disebut terakhir itu merupakan teks nonsastra yang masing-masing dapatdibagi lebih lanjut menjadi teks laporan dan teks prosedur serta teks transaksionaldan teks ekspositori. Sementara itu, teks cerita merupakan jenis teks sastra yangdapat diperinci menjadi teks cerita naratif dan teks cerita nonnaratif. Sesuai dengankurikulum 2013, buku siswa kelas VIII ini berisi lima bab yang terdiri atas jenis tekscerita fabel, biografi, prosedur, teks diskusi, dan teks ulasan.Pada Bab I siswa diajak memahami teks cerita fabel, pada Bab II siswa diajakmemahami teks biografi, pada Bab III siswa diajak memahami teks prosedur, padaBab IV siswa diajak memahami teks diskusi, dan pada Bab V siswa diajak memahamidan mencermati teks ulasan.Jenis-jenis teks itu dapat dibedakan atas dasar tujuan (yang tidak lain adalahfungsi sosial teks), struktur teks (tata organisasi), dan ciri-ciri kebahasaan teks-tekstersebut. Sesuai dengan prinsip tersebut, teks yang berbeda tentu memiliki fungsiberbeda, struktur teks berbeda, dan ciri-ciri kebahasaan yang berbeda. Dengandemikian, pembelajaran bahasa yang berbasis teks merupakan pembelajaran yangmemungkinkan siswa untuk menguasai dan menggunakan jenis-jenis teks tersebutdi masyarakat.Buku ini dirancang agar siswa aktif melakukan kegiatan belajar melalui tugastugas, baik secara kelompok maupun mandiri. Untuk mengajarkan bahasa Indonesiadengan menggunakan buku ini, pengajar hendaknya menempuh empat tahappembelajaran, yaitu (1) tahap pembangunan konteks, (2) tahap pemodelan teks, (3)tahap pembuatan teks secara bersama-sama, dan (4) tahap pembuatan teks secaramandiri.Setiap bab pada buku ini terdapat tiga kegiatan belajar. Kegiatan pembelajarandiawali dengan pembangunan konteks, kemudian dilanjutkan dengan pemodelanpada Kegiatan 1. Pembangunan konteks dimaksudkan sebagai langkah-langkah awalyang dilakukan oleh guru bersama siswa untuk mengarahkan pemikiran ke dalampokok persoalan yang akan dibahas pada setiap bab. Tahap pemodelan adalah tahapyang berisi pembahasan teks yang disajikan sebagai model pembelajaran. Pembahasandiarahkan kepada semua unsur kebahasaan yang membentuk teks itu secarakeseluruhan. Tahap pembangunan teks secara bersama-sama dilaksanakan padaKegiatan Belajar 2. Pada tahap ini siswa bersama-sama siswa lain dan guru sebagaifasilitator menyusun kembali teks seperti yang ditunjukkan pada model. Tugas-Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuanvii

tugas yang diberikan berupa semua unsur kebahasaan yang sesuai dengan ciri-ciriyang dituntut pada jenis teks yang dimaksud. Adapun Kegiatan Belajar 3 merupakankegiatan belajar mandiri. Pada tahap ini, siswa diharapkan dapat mengaktualisasi diridengan menggunakan teks sesuai dengan jenis dan ciri-ciri seperti yang ditunjukkanpada model.Buku ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu,kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang tulus kepada semuaanggota tim penyusun dari Badan Bahasa. Mereka yang dengan tidak mengenallelah berupaya mewujudkan Buku Guru Bahasa Indonesia Kelas VIII ini, antara lain,adalah Dr. Fairul Zabadi dan Drs. Sutejo.Penghargaan dan ucapan terima kasih juga kami tujukan kepada Drs. RiyadiSantosa, M.Ed., Ph.D., Dr. Tri Wiratno, dan Dr. Dwi Purwanto dari Universitas SebelasMaret Surakarta (Konsultan yang memperluas wawasan penyusun tentang selukbeluk teks dan cara menuangkannya menjadi bahan pelajaran); Prof. Dr. HasanudinW.S., M.Hum. dari Universitas Negeri Padang dan Dr. Muhammad Abdullah, M.Hum.dari Universitas Diponegoro (Penelaah buku ini); Pangesti Wiedarti, M.Appl.Ling.,Ph.D. dari Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberikan masukan dalampenyempurnaan buku ini.Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Drs. M. Jaruki,M.Pd. dan Drs. Joko Sugiarto yang telah memberikan banyak saran untuk perbaikanbuku ini. Selain itu, kami juga menyampaikan terima kasih kepada Hidayat Widiyanto,S.S., Riswanto, S.S., dan R.M. Sunny, S.Pd. yang telah membantu kami dalam penyiapanmateri buku ini.Kami menyadari buku ini bukan tanpa cela dan pasti ada kekurangannya. Untukpenyempurnaan buku ini, saran dan kritik dari pengguna selalu kami harapkan.Jakarta, Januari 2014MahsunKepala Badan Pengembangandan Pembinaan BahasaviiiBuku Guru Kelas VIII SMP/ MTs

Diunduh dari BSE.Mahoni.comDaftar IsiKata Pengantar.Prawacana.Daftar Isi.ivviixBab I Petunjuk Umum .1A. Pendahuluan .B. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Teks .C. Organisasi Penataan Materi Buku Bahasa Indonesia dalamBuku Siswa .D. Metode .Bab II Petunjuk Khusus .A.B.C.D.E.Pembelajaran Materi Bab I .Pembelajaran Materi Bab II .Pembelajaran Materi Bab III .Pembelajaran Materi Bab IV.Pembelajaran Materi Bab V.134588316486113Bab III Penilaian. 134A.B.C.D.Penilaian Latihan Siswa.Penilaian Formatif dan Sumatif.Rekapitulasi Penilaian Kegiatan Siswa .Penilaian Kemajuan Belajar Siswa Berdasarkan Portofolio.134134135149Bab IV Bahan Pengayaan . 162A. Wacana dan Teks.B. Register dan Gaya Bahasa.162170Bab V Bahan Remidi . 180A. Pengulangan Materi Bab I.B. Pengulangan Materi Bab II .C. Pengulangan Materi Bab III .Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan180182186ix

D. Pengulangan Materi Bab IV .E. Pengulangan Materi Bab V .189191Daftar Pustaka. 193Silabus . 197Lampiran . 256xBuku Guru Kelas VIII SMP/ MTs

Bab IPetunjukUmumA. PendahuluanPembelajaran bahasa di Indonesia, khususnya pembelajaran bahasa (dan sastra)Indonesia tidak lepas dari pengaruh pembelajaran bahasa yang berlangsung di dunialuar. Berbagai metode dan pendekatan pembelajaran bahasa yang berkembang di dunialuar diadopsi ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Secara garis besar KaswantiPurwa (1984) membagi dua pola penataan materi pembelajaran bahasa di duniayang ikut mewarnai materi pembelajaran bahasa di Indonesia, yaitu pembelajarandengan fokus utamanya pada bentuk (form) bahasa dan pembelajaran dengan fokusutama pada fungsi (function) bahasa. Apabila pada pembelajaran dengan penekananpada bentuk bahasa lebih difokuskan pada penguasaan struktur (tata bahasa), makapada pembelajaran dengan penekanan pada fungsi bahasa lebih difokuskan padapenguasaan penggunaan bahasa. Di dalam penggunaan bahasa terdapat kaidah-kaidahpenggunaan bahasa yang tanpa itu kaidah-kaidah tata bahasa tidak ada manfaatnya.Belajar bahasa lebih dari sekadar mempersoalkan kegramatikalan karena yang lebihpenting adalah kecocokan penggunaan suatu tuturan pada konteks sosiokulturalnya.Pembelajaran dengan penekanan pada bentuk bahasa telah berlangsung cukuplama yaitu sepanjang periode 1880 s.d. 1970-an sedangkan pembelajaran denganpenekanan pada fungsi bahasa telah berlangsung mulai 1980-an.Selanjutnya, Kaswanti Purwa (1984) menyatakan bahwa secara metodologis,pembelajaran bahasa dengan penekanan pada bentuk telah menjadi bahan utamabagi pendekatan pembelajaran bahasa melalui metode Grammar Tanslation Method,Direct Method, Audiolingual Method, Cognitive Learning Theory, dan CommunicativeApproach. Hanya, perbedaan di antara keempat metode tersebut terletak pada prosedurpenyajian materinya. Apabila pada pendekatan Grammar Tanslation Method danCognitive Learning Theory penyajian materi didahului dengan materi tata bahasanyalalu diikuti struktur bahasanya (induktif), maka pada pendekatan Direct Method danAudiolingual Method yang didahulukan adalah struktur bahasanya baru diikuti uraiantata bahasanya (deduktif). Adapun penekanan pada materi penguasaan penggunaanbahasa menjadi pusat perhatian pembelajaran bahasa melalui metode CommunicativeApproach atau sering disebut pula dengan metode Functional/Notional Approach.Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan1

Untuk pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah, penyajian materiyang menekankan pada kemampuan penguasaan bentuk bahasa (tata bahasa) telahmewarnai kegiatan pembelajaran bahasa sepanjang era awal kemerdekaan sampaiawal tahun 1984. Sepanjang periode itu telah muncul buku-buku tata bahasa Indonesiayang telah menjadi buku pegangan utama pembelajaran bahasa Indonesia di sekolahsekolah. Buku tata bahasa yang sangat kuat pengaruhnya dalam pembelajaran bahasaIndonesia adalah karangan Sutan Takdir Alisyahbana (1949). Buku ini sangat luas danpanjang masa beredarnya. Tahun 1981 jilid pertamanya telah mengalami cetak ulangsebanyak 43 kali dan tahun 1980 jilid keduanya mengalami cetak ulang sebanyak 30kali. Disusul kemudian oleh buku tata bahasa karangan Gorys Keraf, yang diterbitkan1970 dan mengalami cetak ulang sebanyak 10 kali tahun 1984 (Kaswanti Purwo, 1984).Dengan munculnya Kurikulum 1984, pembelajaran bahasa Indonesia diIndonesia memasuki era baru, yaitu pembelajarannya tidak lagi ditekankan padapenguasaan pada bentuk bahasa tetapi pada fungsi bahasa. Kurikulum 1984 tidakhanya menjadikan pragmatik sebagai pendekatan dalam pembelajaran bahasa, tetapipragmatik dijadikan materi pembelajaran bahasa itu sendiri. Dalam pembelajaranbahasa yang menjadikan pragmatik sebagai materi sekaligus pendekatan dalampembelajaran bahasa siswa lebih dituntut untuk menguasai penggunaan bahasabukan pada penguasaan kaidah-kaidah bahasa. Belajar bahasa bukan belajar tentangbahasa tetapi belajar berbahasa (menggunakan bahasa).Berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berbasis padakompetensi memberi ruang baru bagi penguatan pola penataan materi dan metodepembelajaran bahasa Indonesia dengan tujuan penguasaan bahasa secara baik danbenar. Namun, sayangnya KTSP yang dikembangkan tidak juga mampu membuatprestasi belajar bahasa Indonesia siswa menggembirakan. Hal ini dapat dibuktikandengan rendahnya hasil ujian nasional (UN) siswa untuk mata pelajaran bahasaIndonesia.Selain itu, suatu hal yang cukup menyedihkan, bahwa berdasarkan berbagaistudi yang dilakukan organisasi internasional, seperti studi yang dilakukan TIMMSmenggambarkan bahwa sebagian besar (95%) siswa Indonesia hanya mampu menjawabpersoalan sampai level menengah. Artinya, 5% siswa Indonesia hanya mampumemecahkan soal yang memerlukan pemikiran.Persoalannya, mengapa pelajaranbahasa Indonesia belum juga mampu membangun cara berpikir siswa, padahal fungsiutama bahasa selain sebagai sarana komunikasi juga merupakan sarana pembentukpikiran. Ada apa dengan pelajaran bahasa Indonesia kita di sekolah-sekolah?Apabila dilihat dari segi kandungan materi, satuan bahasa yang mengandungmakna, pikiran, gagasan yang menjadi materi pembelajaran bahasa Indonesiahanyasampai satuan paragraf. Itu sebabnya, tidak mengherankanjika dalam prosespembelajaran siswa diminta fokus memahami paragraf seperti pengembanganparagraf dari sebuah kalimat (ide) utama, lalu disuruh menyusun kalimat penjelasnyaatau disuruh mencari ide utama pada paragraf tertentu, serta dapat juga siswa diminta2Buku Guru Kelas VIII SMP/ MTs

membuat paragraf dengan kalimat utama yang sudah ditentukan oleh guru. Tidak jelaspragraf jenis apa yang hendak dikembangkan. Padahal, jika dilihat dari kelengkapanmakna, pikiran, gagasan yang dikandung maka satuan bahasa yang berupa tekslahyang sepantasnya menjadi basis pembelajaran. Dalam konteks itulah, Kurikulum2013 khusus untuk materi pembelajaran bahasa Indonesia, lebih ditekankan padapembelajaran yang berbasis teks.B. Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis TeksSatuan bahasa yang mengandung makna, pikiran, gagasan lengkap adalah teks.Teks tidak selalu berwujud bahasa tulis sebagaimana lazim dipahami, misalnya teksPancasila yang sering dibacakan pada saat upacara. Teks dapat berwujud teks tulismaupun teks lisan. Teks itu sendiri memiliki dua unsur utama yang harus dimiliki.Pertama, yaitu (a) konteks situasi penggunaan bahasa yang di dalamnya ada registeryang melatarbelakangi lahirnya teks seperti, adanya sesuatu (pesan, pikiran, gagasan,ide) yang hendak disampaikan (field), sasaran atau kepada siapa pesan, pikiran, gagasan,atau ide itu disampaikan (tenor), dan dalam format bahasa yang bagaimana pesan,pikiran, gagasan, atau ide itu dikemas (mode). Terkait dengan format bahasa tersebutdapat berupa deskripsi, prosedural, naratif, cerita petualangan, anekdot dan lain-lain.Unsur kedua, yaitu konteks situasi, yang di dalamnya ada konteks sosial dan konteksbudaya masyarakat tutur bahasa yang menjadi tempat teks tersebut diproduksi.Terdapat perbedaan antara satu jenis teks tertentu dengan jenis teks lainnya.Perbedaan dapat terjadi, misalnya pada struktur teks itu sendiri. Sebagai contoh, teksdeskripsi dengan teks prosedur berbeda strukturnya meskipun kedua teks tersebuttermasuk ke dalam kategori jenis teks faktual. Apabila teks deskripsi memiliki ciritidak terstruktur dan tidak bersifat generalisasi, maka teks prosedur justru bersifatterstruktur dan dapat digeneralisasi. Struktur teksnya juga berbeda, jika padateks deskripsi strukturnya terdiri atas pernyataan umum lalu diikuti pernyataandeskriptifnya, maka struktur teks prosedur adalah tujuan, daftar bahan, urutantahap pelaksanaan, pengamatan, dan simpulan. Begitu pula kedua jenis teks tersebutberbeda dengan teks cerita naratif. Teks yang terakhir ini, di samping jenisnya berbedadengan kedua jenis teks di atas, yaitu masuk dalam kategori teks jenis sastra, jugastrukturnya berbeda, yaitu terdiri atas: judul, orientasi (kapan, siapa, dan di mana),komplikasi (masalah apa yang terjadi dan mengapa terjadi?), serangkaian peristiwa,resolusi/klimaks, dan koda (bagaimana cerita berakhir). Struktur teks membentukstruktur berpikir, sehingga setiap penguasaan jenis teks tertentu siswa akan memilikikemampuan berpikir sesuai dengan struktur teks yang dikuasainya. Dengan berbagaimacam teks yang sudah dikuasainya, berarti siswa akan mampu memiliki berbagaistruktur berpikir, bahkan satu topik tertentu dapat disajikan dalam jenis teks yangberbeda dan tentunya dengan struktur berpikir yang berbeda.Bahasa Indonesia Wahana Pengetahuan3

Selain itu, secara garis besar teks dapat dipilah atas teks sastra dan teks nonsastra.Teks sastra dikelompokkan ke dalam teks naratif dan nonnaratif. Adapun teks nonsastradikelompokkan ke dalam teks jenis faktual yang di dalamnya terdapat subkelompokteks laporan dan prosedural dan teks tanggapan yang dikelompokkan ke dalamsubkelompok teks transaksional dan ekspositori. Dengan memperhatikan jenis-jenisteks di atas serta adanya unsur utama yang harus dimiliki teks, salah satunya adalahmode, yaitu sarana bahasa apakah yang digunakan untuk mengemas pesan, pikiran,gagasan, ide yang disampaikan melalui teks, maka melalui pembelajaran bahasa yangberbasis teks materi sastra dan materi kebahasan dapat disajikan.C. Organisasi Penataan Materi Bahasa Indonesia dalamBuku SiswaMateri pembelajaran bahasa Indonesia untuk siswa SMP disusun berdasarkan limabab pelajaran. Kelima bab itu membicarakan lima jenis teks, yaitu teks cerita fabel, teksbiografi, teks prosedur, teks diskusi dan teks ulasan. Pada Bab I materi berisi teks ceritafabel dengan tema “Belajar pada Kehidupan Fauna”. Tema tersebut diangkat dari fungsisosial teks yang berisi pendidikan moral dari kehidupan binatang. Dalam materi ini siswadiharapkan memahami konsep teks cerita fabel dengan struktur pembentuknya yang terdiriatas orientasi, komplikasi, resolusi, dan koda. Selain itu, siswa juga diharapkan memahamiunsur kebahasaan dalam teks itu.Pada Bab II materi yang diberikan berupa teks biografi yang mengusung tema“Menepis Lupa Jasa Inspirator Bangsa”. Tema tersebut diangkat dari fungsi sosial teksbiografi. Dalam materi ini siswa diharapkan memahami struktur teks biografi yang terdiriatas orientasi, peristiwa dan masalah, dan reorientasi. Selain itu, pada pelajaran ini siswadiharapkan juga dapat memahami unsur-unsur kebahasaan yang ada di dalam teksbiografi yang dijadikan model.Pada Bab III materi yang disajikan berupa teks prosedur dengan tema “Menggapai CitaMelalui Kreativitas.” Tema itu diangkat dari fungsi sosial teks prosedur. Dalam materi inisiswa diharapkan menguasai struktur teks prosedur yang terdiri atas tujuan dan langkahlangkah. Selain itu, siswa diharapkan dapat memahami unsur kebahasaan yang terdapatdalam teks tersebut.Pada Bab IV materi berisi teks diskusi yang membahas tema “MemecahkanPermasalahan Dampak Teknologi Lewat Diskusi”. Pada pelajaran ini siswa diharapkanmampu menelaah teks jenis diskusi. Setiap isu yang berkembang di masyarakat adayang mendukung dan menentang. Siswa diminta untuk berpikir kritis terhadapsetiap isu dan membedahnya dengan pandangan-pandangan yang mendukung danmenentang terhadap isu tersebut. Penyimpulan pun didasarkan pada argumenargumen yang telah dikemukaan, baik yang mendukung maupun yang menentang.Unsur-unsur kebahasaan yang biasa digunakan dalam teks ini juga diulas sebagaipendukung materi agar siswa mampu menyusun teks diskusi.4Buku Guru Kelas VIII SMP/ MTs

Pada Bab V materi pelajaran berisi teks ulasan yang membahas tema “MengulasBerbagai Karya Sastra”. Tema tersebut diangkat dari fungsi sosial teks ulasan. Melaluimateri ini siswa diberi pemahaman tentang struktur teks ulasan beberapa karya sastrayang sedang banyak dibicarakan oleh masyarakat. Siswa diharapkan dapat mengikutiproses pembelajaran bab ini, mulai dari pemahaman tentang struktur teks ulasan yangmeliputi orientasi, tafsiran, evaluasi, dan rangkuman, maupun unsur kebahasaan yangmendukungnya. Selanjutnya, siswa diharapkan dapat mengulas sebuah teks sastradan pada akhirnya seorang siswa mampu menghasilkan sebuah teks yang berjenisteks ulasan karya sastra tertentu.D. MetodeMetode pembelajaran dalam materi ini terdiri atas membangun konteks, pemodelan,membangun teks secara bersama-sama, dan membangun teks secara mandiri. Dalam BabI “ Belajar pada Kehidupan Fauna” siswa diperkenalkan dengan teks cerita fabel. Untukmembangun konteks pada materi ini, siswa diberi beberapa pertanyaan yang berkaitandengan tema kehidupan yang harmonis di lingkungan siswa. Selain itu, untuk membangunkonteks siswa membaca puisi tentang binatang yang berjudul “Gajah” karya TaufiqIsmail. Pada bagian ini siswa dapat membuat pertanyaan dan pernyataan terkait denganpuisi yang telah dibacanya. Puisi tentang binatang ini diharapkan mampu menggiringpemikiran siswa tentang topik binatang yang akan mereka pelajari pada teks cerita fabelini. Selanjutnya, siswa diperkenalkan pada teks cerita fabel yang dimunculkan sebagaimodel. Dalam teks model siswa sudah diberi pengetahuan tentang struktur teks dan unsurkebahasaan yang membangun keutuhan dan kepaduan sebuah teks. Pada saat menyusunteks secara berkelompok, siswa diminta berdiskusi dalam menyusun teks sesuai denganteks model. Melalui beberapa tahap dan cara yang dapat mempermudah kerja siswa,diharapkan siswa mampu menyusun kembali sebuah teks cerita fabel. Sementara itu, padakegiatan menyusun teks secara mandiri, siswa diberi latihan-latihan agar siswa mampumembedakan teks, mengidentifikasi kekurangan teks, membedah teks yang dicari olehsiswa. Pada kegiatan menyusun teks secara mandiri dihadirkan materi tentang pembacaandan penyusunan puisi. Pada kedua kegiatan itu, siswa juga sudah dilatih dengan beberapahal yang berkaitan dengan unsur kebahasaan.Dalam Bab II “Menepis Lupa Jasa Inspirator Bangsa,” kegiatan membangun konteksdilakukan dengan memunculkan gambar Bung Karno dan Bung Hatta yang akanmenggiring pemikiran siswa pada tokoh dan pahlawan bangsa. Pernyataan keduatokoh tentang “Alangkah Hebatnya Negara Gotong Royong” dan “Untuk Negeriku”yang diuraikan dalam pembangunan konteks diharapkan dapat membangkitkannasionalisme dan kebanggaan terhadap negara kita. Berikutnya, dimunculkan gambarketika menyampaikan proklamasi dan pengibaran Sang Saka Merah Putih dengan judulgambar “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.” Untuk membangun konteks itu siswadiminta untuk menjawab beberapa perta

cerita fabel, biografi, prosedur, teks diskusi, dan teks ulasan. . berbeda, struktur teks berbeda, dan ciri-ciri kebahasaan yang berbeda. Dengan demikian, pembelajaran bahasa yang berbasis teks merupakan pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk menguasai dan menggunakan jenis-jenis teks tersebut