Transcription

HEJ (Home Economics Journal). Vol 2, No. 2. October 2018, 56-64ISSN 2579 – 4272 (printed), ISSN 2579 – 4280 (online)RANCANGAN PEMBELAJARAN TEACHING FACTORYDI SMK TATA BUSANANoor FitrihanaUniversitas Negeri Yogyakarta, Kampus Karangmalang Yogyakarta IndonesiaE-mail: noor [email protected] Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2015 tentang pembangunan sumberdaya industri menyatakan bahwa penyelenggaraan pendidikan vokasi industri berbasiskompetensi harus dilengkapi dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), pabrik dalam sekolah(teaching factory), dan tempat uji kompetensi (TUK). Peraturan Menteri Pendidikan danKebudayaan Nomor 22 tahun 2016 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengahmenyatakan bahwa salah satu model pembelajaran yang perlu dikembangkan adalahpembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning)disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dan jenjang pendidikan. Kedua peraturan inimenjadi landasan implementasi teaching factory (TEFA) di sekolah menengah kejuruan (SMK).Makalah ini selanjutnya akan membahas tentang rancangan pembelajaran TEFA di SMKkompetensi keahlian Tata BusanaPENDAHULUANProses pembelajaran konvensional dipendidikan vokasi saat ini dirasa kurangoptimal sehingga diperlukan pendekatan barudalamprosespembelajaranuntukmenghadapi perkembangan dunia usaha danindustri ke depan yaitu:a. Memungkinkanpelatihandalamlingkungan manufaktur yang nyatab. Modernisasiprosesbelajardanmembawanya lebih dekat dengan kondisiindustri yang nyatac. Memanfaatkan proses dan teknologi diindustri secara langsung untuk adopsipengetahuan dan teknologi dalam prosesmanufaktur.d. Mendorong inovasi di bidang manufakturdengan memperbaiki kemampuan pekerja,misalnyakemampuan penyelesaianmasalah , kreativitas atau kemampuanberpikir sistem,calon pekerja yangmemiliki kemampuan inovasiadalahpendorong utama daya saing manufaktur.( Eberhard Abele dkk, 2015).Untuk mengantisipasi kebutuhan tenagakerja di masa depan makatuntutanpembelajaran di SMK saat ini adalah :a. Menghasilkan karya produk kreatif yanglayak jual.b. Menumbuhkan wirausaha dengan secarahands on dan learning by doing (prakteklangsung).c. Menggabungkan interaksi digital dankonvensional.d. Menggunakan pendekatan saintifik,inquiri, discovery, problem nyata ,proyek, produksi dan TEFA.e. Pencapaian Kompetensi yang diakuidengan sertifikasi profesi.f. Menumbuhkan keterampilan abad 21 .g. Penguatan pendidikan karakter danbudaya industriUntukmengakomodasiberbagaituntutan dunia usaha dan industri aga SMKrmenghasilkan lulusan yang kompeten tidakhanya link and match namun juga Plug andPlay maka dikembangkan pembelajaranTeaching Factory . Teaching Factory (TEFA)adalah pembelajaran yang menghadirkansuasana yang mendekati lingkungan danaktifitasindustri sesungguhnya rbasisprodukuntukmenghasilkan lulusan yang kompeten,berkarakter berbudaya kerja dan berjiwawirausaha melalui kegiatan produksi baikberupa barang atau jasa yang memilikistandar perencanaan,prosedurdanpengendalian kualitas industri dan layakdipasarkankekonsumen/masyarakat

Fitrihana. Rancangan Pembelajaran Teaching Factory .57(Fitrihana, N., 2017). Pembelajaran TEFAmerupakansalah satu pendekatanpembelajaran yang sesuai dengan tuntutankompetensi saat ini dan masa depan. Dewasaini implementasi pembelajaran berbasisindustri kembali meningkat dan banyakdipraktekkan di banyak negara untuk tujuanpendidikan, pelatihan maupun penelitian.menggunakan augmented and virtual reality(AR/VR) ataupun berbagai jenis simulasidigital lainnya. Kemajuan teknologi inisangat membantu dalam menciptakansimulasilingkung kerja yang nampaknyatapada peserta didik. Pada pembahasanselanjutnya akan difokuskan rancanganTEFA pada SMK Tata Busana.Perkembangan konsep TEFA yangmengarah pada gabungan pemahamantentang TEFA dalam pengertian yang sempitdan TEFA dalam pengertian yang lebih luas.Konsep TEFAdapat diimplementasikandalam banyak hal/cara yang berbeda gunamencapai kompetensi yang diharapkan.Konsep TEFA dalam arti sempit adalahmemberikan pengalaman nyata padalingkungan fisik sistem rantai nilai produkdimana para peserta didik bisa melakukan,mengevaluasi, dan merefleksikan hasilpekerjaannya sendiri. Sedangkan dalampengertian yang lebih luas sesuai denganperkembangan revolusi industri 4.0 makaTEFA tidak hanya dilakukan terbatas padalingkungan fisik saja namun juga lingkunganvirtual diantaranya adalah dengan cara :a. Sistemrantai nilai tambah produk(lingkungan, proses dan teknologi) dapatditampilkan secara virtual.b. Interaksi dalam pembelajaran TEFA dapatdilakukandenganmemanfaatkanTeknologi komunikasi dan informasi(dalam jaringan)c. Podukyangdihasilkanberupajasa/layanan(Eberhard Abele dkk, 2015)SMK TATA BUSANAIndonesia merupakan salah satu pemainutama dalam industri pakaian jadi di dunia.Indsutri fashion juga meruapakan salah satusubsektorindsutrireatifsebagaipenyumbang penyumbang terbesar padaproduk domestik bruto nasional sebesar18,15 % (Bekraf, 2017). Industri tekstil dangarmen juga menjaid salah satu dari 5 sektoruatama yang diharapkan dapat berkembanguntuk menghadapi tantangan revolusi industri4.0 dalam program Making Indonesia 4.0yang diluncurkn Presiden Jokowi pada tahun2018 ini (Kemenperin, 2018) . Salah satuprogram prioritas dalam menghadapitantangan revolusi indsutri 4,0 adalahmeningkatkan kualitas sumber daya manusia.SMK Tata Busana dihrapkan mampumendukung dan menyiapkan tenaga kerjayangkompetenuntukmeningkatkantumbuhnya industri fashion menghadapi erarevolusi Industri 4.0. Ada sekitar 530 SMKBidang Tata Busana dengan total siswa47.205 di seluruh Indonesia seperti terlihatpada tabel 1. Potensi SDM yang cukup tinggiuntuk mengembangkan industri fashionbersaing di tingkat globalPelaksanaan pembelajaran teachingfactory tidak hanya dapat hanya dalamlingkungan fisik saja (luar jaringan) namunjuga dapat dilakukan pembelajan dalamjaringan. Teaching factory dapat dilakukandengan model kelas terbalik (FlippedLearning), Blended learning maupun adaptivlearning.Rekayasa lingkungan virtual

Fitrihana. Rancangan Pembelajaran Teaching Factory .58Tabel. 1. Jumlah Sekolah dan Siswa SMK Tata BusanaSMK Tata BusanaJumlah SekolahJumlah SiswaSMK Negeri29531959SMK SwastaTotal23553015 24647. 205Sumber : (diolah dari Direktorat pembinaan SMK, 2016)Salah satu komponen utama ustri.Untukmengembangkan kerjasama maka perlumempertimbangkan ekosistem link andmatch antara sekolah. masyarakat dandunia industri seperti terlihat pada gambar 1.Manajemen SMK Tata Busana harusmampumenjalinkerjasamadanberinteraksi degan para stakeholder untukpeningkatan kualitas pembelajaran.Gambar 1. Ekosistem link and Match SMK Tata BusanaRANCANGAN PEMBELAJARANDI SMK TATA BUSANATEFAAda 3 komponen yang perlu disiapkan untukpelaksanan TEFA yaitu lingkungan kerja,produk dan proses pembelajaran .1.1 Penataan dan pembenahan lingkungankerja/bengkel sesuai dengan di Industri.Untuk melaksanan pembelajaran TEFAperlu dilakukan pembenahan dan penataanbengkel yang diatur sedemikian rupasehingga menyerupai lingkungan kerja diindustri. Tata letak mesin, area kerja, alurproduksi, budaya kerja dan prosedur kerjamengadopsi dari industri. Industri mitrasangat penting dalam menciptakan susanakerja di industri. Dalam implementasiTEFA SMK Tata busana dapat bekerjasamdengan indsutri garmen maupun denganasosiasi desainer.

Fitrihana. Rancangan Pembelajaran Teaching Factory .59Gambar 2. Penataan Laboratorium Jahit seperti di industri garmenSumber : Dokumentasi SMK N 1 KalasanGambar 3. Penataan Laboratorium Busana seperti studio fashion desainerSumber : dokumentasi SMK NU Banat

Fitrihana. Rancangan Pembelajaran Teaching Factory .60Gambar 2 menunjukkan suasana laboratoriumdi tata seperti kondisi lingkungan kerja diindustri garmen dimana mengikuti alurproduksi sistem ban berjalan untukmenghasilkan produk Sedangkan pada gambar3 suasana laboratorium busana di tata sepertisuasan di studio fashion Designer dimanadilengkapi berbagai referensi sumber ide,peralatan dengan teknologi terkini sepertibordir komputer, Pola komputer dan animasi3D untuk busana. Dengan penataanlaboratorium yang mencerminkan suasanalingkungankerjadiindustriakanmengantarkan siswa untuk lebih mudahberadaptasi dengan lingkungan kerja di masadepan. SMK dapat memuaii dengan mmengoptimalkan sumberdaya yang dimilikiuntuk mengembangkan lingkungan kerjaseperti di industri secara bertahap.PRODUK /JASAProduk/jasa dalam pembelajaran TEFA adalahsebagai media pengantar untuk mencapai suatukompetensi tertentu, jadi bukan sekedar a yang ada. Untuk itu dalammenetapkan produk yang akan diproduksiharus mempertimbangkan jumlah kompetensiyang dapat diantarkan melalui produk tersebutdan standar kualitas dan nilai guna produk(dapat memenuhi kebutuhan internal ataueksternal).Dalam konteks aktifitas industri untukmenghasilkan produk maka produk dapatdidefinisikan segala sesuatu (barang ataupunjasa) dengan segala attributnya yang dapatditawarkan ke pasar secara komersial untukdigunakan atau dikonsumsi oleh konsumendalam rangkamemenuhi keinginan dankebutuhan konsumen sehingga memuaskankonsumen. Atribut produk yang dilihatkonsumen sebelum membeli sebuah produkdiantaranya adalah brand/merk, kinerja,spesifikasi teknis, harga, desain, warna, dayatahan, pengalaman dan reputasi perusahaansehingga menjadi totalitas bentuk dankarakteristik produkyang menunjukkankemampuannya untuk memuaskan kebutuhankonsumen yang tampak jelas ipilihdalam pelaksanaanTEFA diantaranya adalah :1) Mampu mengantarkan pencapaiankompetensi siswa2) Memiliki potensi pasar yang baik untukmemenuhi kebutuhan internal maupuneksternal3) Kemampuan produk untuk diproduksidengan sumberdaya yang dimiliki4) Dapat dikembangkan dan ditingkatkansecara berkelanjutanGambar 4. Produk TEFA SMKN 1 KalasanSumber : Dokumentasi penulis

Fitrihana. Rancangan Pembelajaran Teaching Factory .61Gambar 4. Produk TEFA SMK NU BanatSumber : Dokumentasi SMK NU BanatPEMBELAJARANTEFA dapat dilakukan pada 1 mata pelajaranproduktif danatau dengan kolaborasi beberapamata pelajaran bahkan antar kompetensikeahlian akan sangat tergantung padakompleksitasproduk/proyekyangdikembangkan. Produk/jasa harus didasarkanpada pencapaian kompetensi yang diharapkan,kualifikasi guru, persyaratan kompetensisiswa dari mata pelajaran yang telahditempuh, prospek bisnis/pasar, ketersediaanbahan baku dan peralatan yang dimiliki sertaprogram kemitraan yang dikembangkandengan industri. Kerangka dasar pembelajaranTEFA meliputi beberapa aspek berikut:1) Profil karir dan atau peluang usaha terkaitMengidentifikasi profil karir lulusan sesuaicapaian pembelajaran sesuai rdengan standarkompetensi. Untuk SMK Tata Busanamisalnyaa) Bekerja di industri garmenb) Wirausaha di sektor indsutri kreatif fashionc) Mengidentifikasi standar kompetensi kerjanasional SKKNI dan uji kompetensi yangdiperlukan,Integrasi elemen kompetensi dalam dokumenSKKNI terkiat dalam proses pembelajaranmerupatan tuntutan pembelajaran berbasiskompetensi untuk menguatkan link and matchdengan dunia usaha dan inustri. SKKNI yangterkait dengan SMK tata busana diantaranyaadalah:a) SKKNI bidang merancang mode busanaberdasarkan keputusan menteri tenagab)c)d)e)f)g)2)kerja dan tranmigrasi nomer 116 tahun2007SKKNIbidangMenjahitpakaianberdasarkan keputusan menteri tenagakerja dan transmigrasi nomer 92 tahun2008SKKNI bidang custome made busanawanita berdasarkan keputusan menteritenaga kerja dan transmigrasi nomer 90tahun 2010SKKNI bidang desain busana berdasarkankeputusan menteri ketenaga kerjaan nomer78 tahun 2014SKKNI bidang produksi pakaian jadimasal berdasarkan keputusan menteriketenagakerjaan nomer 305 tahun 2015SKKNI bidang bordir berdasarkankeputusan menteri ketenagakerjaan nomer377 tahun 2015SKKNI bidang kewirausahaan industriberdasarankeputusanmenteriketenagakerjaan nomer 53 tahun 2014Analisis SumberdayaSMK perlu membuat analisis kesenjangandan potensi sumberdaya yang dimilikiuntuk mencapai standar kompetensilulusan. Berdasarkan analisis kesenjanganini digunakan untuk merancang strategipengembangan sekolah. Mengidentifikasiketerkaitan anatar Mata PelajaranMelaluianalisis Kompetensi Inti dan kompetesidasar pada mata pelajaran yangmendukung untuk pencapaian kompetensidan melaksanakan produksi dalam TEFA.

Fitrihana. Rancangan Pembelajaran Teaching Factory .623)4)5)6)Implementasi TEFA dapat dikembangkandalam 1 mata pelajaran maupun kolaborasiantar mata pelajaran.Menetapkan produk TEFAUntuk menetapkan produk yang akandiproduksi perlu dilakukan analisiskurikulum untuk produk/jasa yang dapatdihasilkan dari proses pembelajaran dansumberdaya yang dimiliki. Produk yangdipilih ditetapkan berdasarkan analisiskebutuhan kompetensi yang akan dicapai,kebutuhan sumberdaya dan potensi pasarproduk dan potensi pengembangnnya.Melibatkandanmengembangkankerjasama dengan industri mitraPengembangankerjasamasangatdiperlukan dalm pelaksanaan TEFA.Bentuk kerjasama TEFA diantara nyadapat berupadukungan sumberdaya,budaya industri, pengembangan perangkatpembelajaran, magang, pengaturan tataletak,pengembangan dan pemasaranproduk, uji kompetensi, guru tamu danlainnya.Peningkatan kompetensi/pengalaman gurupelatihan/magang jika diperlukanGuru merupakan ujung tombak dalampelaksanaan pembelajaran. Untuk dalampelaksanan TEFA diperlukan guru yangmemiliki pengalaman di industri sesuaidengan produk TEFA yang telahditentukan.Untuksekolahyangmemproduksi pakaian jadi masal guruharus magang di industri garmen yangmemiliki produk-produk berskala nasionaldan internasional. Untuk SMK yangmengembangkan produk berbasis customemade dapat magang di fashion desaineryang bereputasi nasional dan internasional.Melalui magang ini kompetensi danbudaya kerja industri dapat terinternalisasikepada guru untuk dapat diajarkan padasiswaMenyelaraskan bahan ajarjobsheet,formulir produksi dan pemeriksaankualitas untuk proses produksi (dapatmemodifikasi/mengadopsi langsung dariindustri).Implementasi TEFA pada prinsispnyaadalah mengintegrasikan lingkungan,proses dan standar kerja industri dalamproses pembelajaran di keals/bengkel.Untuk dalam pelaksanaan pembelajranharus mengadopsi standar produk, standarkualitas, standar produksi dan budaya kerja7)8)9)a)b)industri tertuang dallam perangkatpembelajaran seperti RPP dan jobsheetyang mengadopsi dari dokumen yang adadi industri.Penataan Bengkel dan peralatanUntuk melakukan pembenahan bengkelperlu dilakukan Analisis pekerjaan danalur produksi terkait bahan, alat, waktu,dan layout mesin.Dalam penataanlaboratoriumdnabengkeljugamemperhatikan lingkungan kerja yangaman, nyaman dan sehat dengan penerapanbudaya 5R.Menetapkan jadwal pembelajaranBerdasarkan analisis proses produksiberdasarkan karakteristik produk yangakan dihasilkan dari aspek jumlah, waktu,kualitas, prosedur kerja diperlukanperancangan jadwal yang lebih fleksibelanatara sistem reguler dan sistem blok.Melaksanakan kegiatan pembelajaranPelaksanaan pembelajaran TEFA dapatdikembangkan dengan beberpa modelmodel pembelajaran berbasis anberbasisprojek,pembelajran berbasis produksi. Setidaknyadilakukan dengan 3 tahapan sebagaiberikutTahap pembelajaran kompetensi kerjaPada tahap ini peserta didik dilatih dandisiapkan untuk menguasai kompetensikerja yang diperlukan dalam memproduksiproduk yang akan dihasilkan. Langkahlagkah pembelajaran dapat dilakukandengan mengamati dan menganalisisproduk yang akan dibuat, merencanakankebutuhan tempat,bahan dan alat,memproduksi contoh/sampel produk,mengevaluasi produk dan hasil kerja.Dalam proses ini guru melatih danmembimbing siswa untuk menguasaiketerampilan yang diperlukan dalammenghasilkan produk sesuai denganstandar yang ditetapkan dan siswa berlatihdengan mengerjakan produksi sampelproduk.Tahap produksiPada tahap produksi siswa dapatdibagi/dikelompokkan sesuai deskripsipekerjaan yang harus dilakukan danbekerja secara tim untuk melakukanproduksi dengan langkah sebagai berikut,Siswa memahami spesifikasi produk yangakan dikerjakanmeliputi desain, standar

Fitrihana. Rancangan Pembelajaran Teaching Factory .63ukuran, standar kualitas, jumlah, waktu,siswa bekerja secara mandiri atauberkelompok memproduksi produk sesuaitarget dan standar kualitas produksi yangtelah ditetapkan, menerapkan budaya K3,guru melakukan pengendalian mutu selamaproses produksi, dan guru dan siswabersama melakukan evaluasi akhirterhadap produk yang telah dihasilkanc) Pengembangan wirausahaPembelajaran TEFA diharapkan jugamenumbuhkan keterampilan berwirausahamaka dalam tahap ini siswa dapat dilatihdan diajar1) Berkreasi untuk mengembangkan danmelakukan inovasi produk2) Mengembangkan kegiatan pemasaransecara luar jaringan (offline) dan dalamjaringan (online)3) Mengembangkankomunikasidanlayanan prima kepada pelannggan4) Membuat rancangan pengembanganbisnis dengan Kanvas model bisnis5) Evaluasi akhir. Berdasarkan panduan pelaksanaanTEFA Direktorat Pembinaan SMK (2017)setidaknya ada 7 elemen pelaksanaan TEFAyang meliputi:1) ahan ruang praktik dilakukandenganmerenovasiruangandanmelengkapi peralatan untuk mendukungproduksi Produk/Jasa2) Produk dan jasa yang dihasilkanMenetapkan produk atau jasa sesuaikompetensi keahlian, potensi sumber ediauntukpencapaian kompetensi.3) Model pembelajaran4) Mengembangkan model pembelajaranberbasis industri dengan mengembangkanperangkat pembelajaran yang disesuaikandengan standar kerja industri berdasarkanproduk dan jasa yang dihasilkann.5) Sumberdaya manusiaPengembangan SDM dilakukan denganmengirimkan magang guru ke industriyang sesuai dengan produk/jasa dalampelaksanaan TEFA untuk memahamiprosedur, kualitas dan budaya kerjaindustri. Jika memungkinkan siswa dapatjuga melakukan kunjungan industri untukobservasi langsung di lapangan/pasar6) ManajemenManajemen TEFA di SMK dilakukandengan dukungan komitmen manajemen,pembentukan tim, struktur organisasi,rencana/program kerja, deskripsi tugasyang jelas,SOP dan alur kinerja,pengelolaan Administrasi n yang baik.7) Hubungan industriMengembangkan hubungan industri danketerlibatan aktif praktisi/industri sebagaisatndar, bencmark , mentor, supervisor,lisensi , pemasaran, untuk pelaksanaanTEFA.8) Informasi produkInfo produk dalam katalog cetak dandigital maupun melalui sosialisasi mediaonline maupun offline dan events kegiatanseperti layanan uji coba dan jasa gratispada saat launching produk atau hari-harikhusus,PENUTUPSMK Tata Busana menjadi salah satupilar dalam menyediakan SDM di industrifashion. Industri fashion Indonesia saat initerus tumbuh dengan pesat baik di sektorindustri kreatif maupun di industri garmenyang padat karya. Lulusan SMK TataBusana diharapkan mampu mendukungkebutuhan SDM yang kompeten untukmengembangkan indsutri fashion agarterus tumbuh menjadai salah satu pilarekonomi bangsa.Penerapan TEFA di SMKmerupakan salah satu upaya untukmeningkatkan link and match duniapendidikan dan industri untuk mendukungprogram Making Indonesia 4.0.Pelaksanaan pembelajaran TEFAsetidaknya mencakup 3 komponen utamayaitupenataanlaboratoriumyangmencerminkan lingkungan kerja industri,Produk/jasayang layak jual untukmengantarkan pencapaian kompetens,i danproses pembelajaran yang mengadopsidaristandarindustri.Tahapanpembelajaran dapat dilakukan dalam 3tahap yaitu pembelajaran kompetensi,produksi dan pengembangan usaha.Penerapan TEFA memerlukan komitmenmanajemen SMK dalam gan usaha untuk menyiapkan

Fitrihana. Rancangan Pembelajaran Teaching Factory .64lulusan agar memiliki kompetensi yangdibutuhkan di pasar kerja masa depan.DAFTAR PUSTAKADirektorat Pembinaan SMK KementerianPendidikan dan Kebudayaan, 2017,PANDUAN PELAKSANAANTEACHING FACTORY.Direktorat Riset dan Pengembangan EkonomiKreatif Deputi Riset Edukasi danPengembangan Badan Ekonomi Kreatif,2017, DATA STATISTIK DANHASIL SURVEI EKONOMIKREATIF KERJASAMA BADANEKONOMI KREATIF DAN BADANPUSAT STATISTIK. BEKRAF.Eberhard Abele, et al , 2015, LEARNINGFACTORIESFORRESEARCH,EDUCATION, AND TRAINING,Procedia CIRP 32 ( 2015 ) 1 – 6, The5th Conference on Learning Factories2015, ScienceDirect –Elsevier.Fitrihana, N. (2017). MODEL BISNISKANVASUNTUKMENGEMBANGKANTEACHINGFACTORY DI SMK TATA BUSANAGUNAMENDUKUNGTUMBUHNYAINDUSTRIKREATIF. Jurnal Taman Vokasi, v5i2.2526Kementerian Perindutrian Republik Indonesia ,2018. SOSIALISASI MAKINGINDONESIA 4.0.

DI SMK TATA BUSANA. Noor Fitrihana . Universitas Negeri Yogyakarta, Kampus Karangmalang Yogyakarta Indonesia . dengan model kelas ter