Transcription

Direktorat Penjaminan MutuDITJEN BELMAWAKEMENRISTEKDIKTIBUKU PEDOMANRoadmap Akreditasi/Sertifikasi InternasionalProgram Studidi Perguruan TinggiIndonesia2019

Buku PedomanRoadmapAkreditasi/Sertifikasi InternasionalProgram Studi di Perguruan TinggiIndonesiaDirektorat Penjaminan MutuDirektorat Jenderal Pembelajaran dan KemahasiswaanKementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi2019

Ringkasan EksekutifAkreditasi/sertifikasi internasional menjadi bagian penting dalam pengelolaanpendidikan tinggi di Indonesia, namun data menunjukkan bahwa pada tahun2018 ini baru ada 241 program studi yang telah meraih rekognisi melaluiakreditasi/sertifikasi, internasional. Berdasarkan situasi strategis tersebut,Kemenristekdikti berupaya mendorong program studi khususnya yang telahterakreditasi A untuk berupaya meraih rekognisi internasional, agar mutu paralulusan yang dihasilkan oleh prodi dapat diakui dunia internasional. Akreditasi,sertifikasi maupun asesmen internasional selain mempermudah mobilitaslulusan ke pasar kerja global, juga semakin membuka mobilitas bagi staf danmahasiswa ke seluruh dunia. Paradigma pentingnya akreditasi/sertifikasiinternasional adalah menjadikan capaian pembelajaran, asesmen dan evaluasipencapaiannya sebagai basis penjaminan mutu dan perencanaan strategiakademik bagi suatu Perguruan Tinggi. Roadmap ini memberikan penjelasantentang proses akreditasi pada beberapa lembaga akreditasi, yakni: ABET,AUN-QA, IFT, AACSB, IMarEST, KAAB dan ASIIN. Selanjutnya roadmap ini jugamenjelaskan adanya 3 tahapan penting bagi program studi yang akanmelakukan akreditasi/sertifikasi internasional, yakni: (1) tahap persiapanakreditasi/sertifikasi, (2) tahap proses akreditasi/sertifikasi dan (3) tahappasca akreditasi/sertifikasi (pemeliharaan). Setiap tahapan akan dibagi dalambeberapa sub-tahapan berikut:1. Tahap persiapan menuju akreditasi/sertifikasi, terdiri atas:a. Adopsi Outcomes-Based Education (OBE)b. Memodifikasi SPMI yang sesuai dengan paradigma OBEc. Melakukan evaluasi kondisi awal program studid. Melakukan asesmen kecukupan (readiness)2. Tahap proses akreditasi/sertifikasi, terdiri atas:a. Pendaftaran formal ke board of accreditation/certificationb. Pengajuan dokumen akreditasic. Visitasi atau asesmen lapangand. Penentuan hasil akreditasi/sertifikasi3. Tahap pasca akreditasi/sertifikasi (pemeliharaan), terdiri atas:a. Melakukan pelaporan kinerja tahunan (annual report)b. Melakukan pengembangan mutu secara berkelanjutanc. Ikut serta menyebarluaskan pengetahuan tentang akreditasiinternasional ke program studi lain yang sebidangi

Kata PengantarPeran perguruan tinggi Indonesia dalam menghadapi daya saing bangsadi era globalisasi, sangat diharapkan oleh berbagai pihak. Dalam sistempendidikan tinggi yang semakin otonom, akuntabilitas penjaminan mutudan strategi sasaran pendidikan berada di tangan perguruan tinggi. Olehkarena itu, untuk melindungi kepentingan masyarakat dan akuntabilitaskepada publik, maka akreditasi adalah aspek yang penting untukmenjadi perhatian perguruan tinggi sebagai salah satu indikator mutu.Hal ini tertuang didalam Perpres No.2 Tahun 2015 tentang RencanaPembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 danRenstra Kemenristekdikti pada Permenristekdikti No. 50 Tahun 2017.Berdasarkan situasi strategis tersebut Kemenristekdikti melaluiDirektorat Penjaminan Mutu, Direktorat Jenderal Pembelajaran danKemahasiswaan berupaya mendorong program studi yang telahterakreditasi A untuk meraih rekognisi internasional agar mutu paralulusan yang dihasilkan oleh prodi dapat diakui di pasar kerjaglobal/internasional. Bagi prodi yang belum terakreditasi A, tentunyajuga didorong untuk terus meningkatkan mutunya dan mulai bersiapmendapatkan akreditasi internasional.Atas hal tersebut, buku “Roadmap Akreditasi/Sertifikasi InternasionalProgram Studi di Perguruan Tinggi Indonesia 2019-2025” disusun untukmenjadi pedoman dan arahan pada pengelolaan kebijakan prodi menujuakreditasi internasional bagi perguruan tinggi di Indonesia, baikuniversitas, institut, sekolah tinggi, politeknik, akademi dan akademikomunitas. Roadmap ini disusun melalui berbagai kegiatan intensif olehtim yang beranggotakan perguruan tinggi yang terbukti secara nyatatelah mempersiapkan, menjalankan proses, dan mendapatkan akreditasiinternasional, serta diperkuat oleh para stakeholder, penggiat mutu, danfasilitator pengembang sistem penjaminan mutu. Berbagai prosespengembangan prodi menuju akreditasi internasional akan diuraikanmulai dari tahapan awal, proses, hingga pasca akreditasi dan upayamempertahankan akreditasi internasional tersebut.ii

Kami berharap semoga buku ini benar-benar dapat dijadikan sebagaipedoman dan arahan bagi seluruh perguruan tinggi di Indonesia untukmeraih target menjadi perguruan tinggi berdaya saing global, berkualitasinternasional, menuju World Class University.Akhirnya, tidak lupa kami ucapkan penghargaan dan terima kasih yangsebesar- besarnya kepada seluruh tim penyusun, narasumber, dan pihakyang terlibat dalam mewujudkan buku Roadmap Akreditasi/SertifikasiInternasional Program Studi di Perguruan Tinggi Indonesia ini. Disadaribahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan buku ini, olehkarena itu, kami sangat mengharapkan saran dan masukan dari berbagaipihak guna penyempurnaan lebih lanjut.Jakarta, 31 Desember 2018Direktur Jenderal Pembelajarandan KemahasiswanKementerian Riset, Teknologi,dan Pendidikan PendidikanTTDIsmunandarNIP. 19700609 199402 1001iii

Daftar IsiRingkasan Eksekutif iKata Pengantar iiDaftar Isi ivDaftar Tabel viDaftar Gambar viiBAB I PENDAHULUAN 11.1 Latar Belakang 11.1.1 Isu Akreditasi/Rekognisi Internasional Program Studi 11.1.2 Tantangan Akreditasi/Rekognisi Internasional 31.1.3 Program Studi Terrekognisi/Memperoleh PengakuanInternasional 61.1.4 Ketersediaan Sumber Daya Manusia, Sarana/Prasarana,dan Pembiayaan 71.1.5 Akreditasi/Rekognisi Internasional sebagai Bagian dariKedaulatan Negara 81.2 Landasan Hukum 91.3 Tujuan 91.4 Sasaran 10BAB II KONSEP DASAR AKREDITASI/SERTIFIKASI INTERNASIONAL 112.1 Pengertian 112.2 Prinsip-prinsip Dasar Rekognisi Internasional 132.3 Badan/Lembaga Rekognisi Internasional Rujukan 162.4 Konsep, Proses dan Perkiraan Biaya Beberapa LembagaAkreditasi/ Rekognisi Internasional 172.4.1 Accreditation Board for Engineering and Technology(ABET) 172.4.2 ASEAN University Network Quality Assurance (AUN-QA) 22iv

2.4.3 Institute of Food Technologist (IFT) 242.4.4 Association to Advance Collegiate School of Business(AACSB) 282.4.5. Institute of Marine Engineering, Science and Technology(IMarEST) 312.4.6. Korea Architectural Accrediting Board (KAAB) 332.4.7. Akkreditierungsagentur für Studiengänge der Ingenieurwissenschaften, der Informatik, derNaturwissenschaften und der Mathematik (ASIIN) 37BAB III OUTCOMES BASED EDUCATION (OBE) 423.1 Pendahuluan 423.2 Terminologi 433.3. Tahapan Merancang Kurikulum OBE 443.3.1 Merumuskan Program Educational Objectives (PEO)/Tujuan Prodi 443.3.2 Merumuskan Program Learning Outcomes(PLO)/Capaian Lulusan 443.3.3 Menyusun kurikulum 473.3.3 Asesmen Capaian Lulusan (Program LearningOutcomes/PLO) 47BAB IV PETA JALAN PENGEMBANGAN PROGRAM STUDI MENUJUAKREDITASI/SERTIFIKASI INTERNASIONAL 524.1 Proses Rekognisi/Pengakuan Internasional 534.2 Tahap Persiapan Menuju Akreditasi/ Sertifikasi 544.3 Tahap Proses Akreditasi/Sertifikasi 564.4 Tahap Pasca Akreditasi/Sertifikasi (Pemeliharaan) 58BAB V PENUTUP 60BAHAN BACAAN 61LAMPIRAN 63v

Daftar TabelTabel 1.1 Perbandingan Berbagai Indikator di Berapa NegaraASEAN 2Tabel 1.2.Jumlah Prodi terakreditasi/sertifikasi internasionalberdasar Perguruan Tinggi 4Tabel 4.1.Perbandingan antara elemen-elemen akreditasinasional (BAN-PT) dengan rekognisi internasionaldan asesmen AUN-QA 53vi

Daftar GambarGambar 1.1. Sebaran Akreditasi/Sertifikasi InternasionalBerdasar Rumpun Keilmuan 5Gambar 2.1. Timeline Proses Akreditasi ABET 19Gambar 2.2. AUN-QA Models for Higher Education 22Gambar 2.3. AUN-QA Models for program level (ver 3) 22Gambar 2.4. Komisi Teknis ASIIN 38Gambar 2.5. Mekanisme akreditasi ASIIN 40vii

BAB IPENDAHULUAN1.1Latar Belakang1.1.1 Isu Akreditasi/Rekognisi Internasional Program StudiGlobalisasi mengharuskan seluruh negara untuk dapat memberikankualitas pendidikan tinggi yang setara dan diakui oleh negara lainnya,sehingga tenaga kerja dan entrepreneur dapat memberikan karyanya didunia global. Pengelolaan pendidikan tinggi, termasuk bagaimana dosenmelakukan transformasi pada mahasiswa sehingga menjadi lulusan yangmemiliki kemampuan terukur sesuai dengan kriteria yang diakui olehnegara lainnya, menjadi sesuatu yang harus dapat dilakukan olehperguruan tinggi untuk menjadikan rakyat Indonesia menjadi wargadunia. Untuk itu diperlukan beragam pendekatan untuk memastikanterciptanya iklim kesetaraan kualitas antara Indonesia dengan duniaglobal di satu sisi dan pengungkitan budaya kualitas dari perspektifkepentingan pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia.Diharapkan, dengan terjadinya kedua aspek tersebut dapat berkontribusidalam memperkuat daya saing Indonesia dari sisi sumber daya manusia.Dalam konteks tersebut, Tabel 1.1 menunjukkan posisi Indonesiadibandingkan dengan negara-negara di ASEAN lainnya. Indonesiamenempati posisi tertinggi dalam hal jumlah perguruan tinggi, jumlahpenduduk, jumlah mahasiswa, luas wilayah dan GDP, namun ironisnyaHuman Development Index kita berada di posisi kelima di ASEAN (dibawah Singapore, Brunei, Malaysia dan Thailand). Data tersebutmenunjukkan kondisi yang sangat menantang dari perspektif penjaminanmutu di mana rekognisi, akreditasi dan sertifikasi menjadi instrumen yangsangat penting.1

Tabel 1.1 Perbandingan Berbagai Indikator di Berapa Negara ASEANCountryHigherEducationsInstutionsPopulation** Students**Size(Sqkm)**GDP(MillionUS 28,87411,2925,7659.0970.856 (31)Cambodia12115,827,241207,678181,03519.4760.555 (143)Indonesia4,537936.9550.684 (110)Lao PDR806,918,36782,868230,80013.3590.575 79 (62)Myanmar13254,363,426870,000653,08074.0120.536 (148)Philippines1,943298,170310.3120.668 (115)Singapore145,696,506178,000707294.5600.912 726 (93)Vietnam23594,444,200 2,000,000310,070201.3610.666 (116)260,581,100 7,000,000 1,919,440102,250,133 3,589,484Sumber: AUN-QA Information Paper, AUN-QA Special Meeting on “The Indonesian Question”,Juni 2018Akreditasi/sertifikasi internasional menjadi bagian penting /sertifikasiinternasional ini seharusnya menjadi aspek utama di pendidikan tinggikarena akan mencerminkan kekuatan bangsa di mata internasional.Akreditasi/sertifikasi internasional dapat bermakna ganda baik ke dalammaupun ke luar negeri. Di dalam negeri akreditasi/sertifikasiinternasional dapat dipakai untuk memastikan adanya ungkitan budayakualitas secara nasional. Sementara itu akreditasi/sertifikasi internasionaldapat memberikan perspektif global bahwa pendidikan di Indonesia jugasetara. Kedua perspektif tersebut tak hanya penting bagi Pemerintah,tetapi juga perguruan tinggi secara umum dan juga program studi diperguruan tinggi tersebut.2

Konteks kemajuan zaman dan globalisasi menuntut perguruantinggi memiliki akreditasi/sertifikasi internasional terbaik di setiapprogram studinya yang dapat diterima secara global. Secara sistemikakreditasi dan atau sertifikasi nasional perlu diarahkan untuk mampusetara dengan sistem yang bertaraf internasional. Namun demikian, dalamkonteks regulasi saat ini di mana akreditasi menjadi kewajiban secaranasional, maka perlu secara paralel ditunjukkan indikator kinerja yangmampu menunjukkan kualitas dari sebuah program studi di perguruantinggi dilihat dari kesetaraannya atau reputasinya secara internasional.Untuk itu akreditasi/sertifikasi program studi oleh lembaga internasionaldapat menjadi salah satu indikator kinerja utama (IKU) yangmencerminkan bahwa sebuah perguruan tinggi telah direkognisi secarainternasional atau bahkan global.1.1.2 Tantangan Akreditasi/Rekognisi InternasionalPrioritas program pemerintah yang dituangkan dalam RencanaStrategis (Renstra) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan TinggiTahun 2015-2019 bertujuan untuk meningkatkan mutu perguruan tinggidan mengurangi kesenjangan/disparitas mutu perguruan tinggi.Kesenjangan ini dapat dimaknai dalam dua dimensi yaitu (a)disparitas mutu di dalam negeri dan (b) disparitas mutu pendidikandalam negeri dengan pendidikan internasional. Untuk itu diperlukanstrategi yang berbeda dan sesuai dengan konteks kesenjangan tersebut.Utamanya dalam konteks kesenjangan dengan mutu di lingkunganinternasional, salah satu upaya untuk membangun kesejajaran patkanakreditasi/sertifikasi internasional dalam rangka untuk meningkatkanpengetahuan pengelolaan dan kapasitas pendidikan tinggi setara denganlingkungan global. Saat ini jumlah program studi di Indonesia yang telahterakreditasi/sertifikasi internasional masih sangat sedikit yang diperolehsecara mandiri oleh masing-masing perguruan tinggi. Jumlah dan kondisitersebut masih terlalu sedikit dengan sebaran yang tidak merata, belummampu memberikan daya ungkit secara nasional. Idealnya, kondisi inidapat di orkestrasi agar di satu sisi setiap perguruan tinggi dapat memiliki3

upaya strategis dan melakukan persiapan yang tepat dan sesuai dengankapasitas dan potensi yang dimiliki oleh program studi untukmenyetarakan secara global. Di sisi lain Kementerian Ristekdikti dapatmengembangkan sistem akreditasi nasional yang setara dengan standarinternasional.Merujuk data Kemenristekdikti tahun 2018, dari sekitar 26.000program studi yang ada di Indonesia menunjukkan baru ada 241 programstudi yang telah meraih rekognisi melalui akreditasi, sertifikasi, validasi,atau asesmen internasional, seperti bisa dilihat pada Tabel 1.2. Pada tabeltersebut terlihat bahwa Universitas Gadjah Mada menduduki peringkatpertama dalam hal jumlah prodi terrekognisi secara internasional, disusuloleh Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, sebaranakreditasi/sertifikasi internasional sesuai bidang dapat dilihat padaGambar 1.1. Nampak jelas terlihat bahwa rumpun teknik mendudukiposisi terbanyak, disusul oleh rumpun ekonomi dan rumpun matematikadan ilmu pengetahuan alam.Tabel 1.2. Jumlah Prodi terakreditasi/sertifikasi internasional berdasarPerguruan TinggiNo.Perguruan TinggiJumlah Prodi1Universitas Gadjah Mada43 Prodi2Institut Teknologi Bandung35 Prodi3Institut Pertanian Bogor27 Prodi4Universitas Indonesia27 Prodi5Universitas Airlangga23 Prodi6Institut Teknologi Sepuluh Nopember20 Prodi7Universitas Brawijaya19 Prodi8Universitas Telkom9 Prodi9Universitas Pendidikan Indonesia9 Prodi10Universitas Diponegoro7 Prodi4

No.Perguruan TinggiJumlah Prodi11Universitas Islam Indonesia5 Prodi12Universitas Hasanuddin4 Prodi13Universitas Bina Nusantara4 Prodi14Universitas Padjajaran3 Prodi15Universitas Muhammadiyah Malang3 Prodi16Universitas Sebelas Maret1 Prodi17Universitas Lampung1 Prodi18Universitas Muhammadiyah Yogyakarta1 Prodi19Universitas Parahyangan1 ProdiTOTAL241 ProdiRUMPUN KEILMUANSumber: Kemenristekdikti, 2018Pendidikan13Ilmu Tanaman11Ilmu Hewani3Bahasa4Kedokteran5Sosial & Humaniora23Agama & UMLAH PRODIGambar 1.1. Sebaran Akreditasi/Sertifikasi InternasionalBerdasar Rumpun Keilmuan(Sumber: Kemenristekdikti, 2018)5

1.1.3 Program Studi Terrekognisi/Memperoleh PengakuanInternasionalRekognisi yang dapat diperoleh di antaranya melalui akreditasi/sertifikasi internasional dan biasanya didorong oleh visi perguruan tinggiuntuk menjadi World Class University sebagai manifestasi kesetaraandengan universitas lain di dunia. Sebenarnya inti rekognisi ini adalah padapemenuhan standar perguruan tinggi yang setara dengan standarinternasional. Namun demikian dalam rangka penyetaraan ini diperlukanadanya kinerja yang sistematis dan berkelanjutan yang dapat dipercepatdengan upaya akreditasi, atau sertifikasi atau pun asesmen berbasislembaga internasional. Pelajaran yang diperoleh selama proses akreditasi/sertifikasi internasional merupakan upaya perguruan tinggi dan programstudi untuk meningkatkan kinerja pendidikan mereka, yang dampaknyadiharapkan lulusan memiliki kualifikasi yang setara dengan rekankerjanya di lingkungan internasional. Namun dari sebuah laporan dalaminagurasi Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) bidang teknik (IndonesianAccreditation Board for Engineering Education - IABEE) disampaikanbahwa ratusan program studi (prodi) keteknikan yang terakreditasi A diIndonesia masih belum diakui oleh lembaga akreditasi internasional.Situasi ini menunjukkan bahwa rekognisi internasional perlu dibangun,tidak hanya dengan memperkuat kelembagaan akreditasi (misalnyadengan LAM yang diarahkan terstandar internasional) tetapi juga denganprogram yang ditujukan langsung ke program studi dan mahasiswanya.Berdasarkan situasi strategis tersebut Kemenristekdikti berupayamendorong program studi yang telah terakreditasi A untuk berupayameraih rekognisi internasional agar mutu para lulusan yang dihasilkanoleh prodi dapat diakui dunia internasional. Dengan hal ini diharapkandapat berimplikasi positif berupa pengakuan kesetaraan kualitaspendidikan Indonesia di tingkat global.Implikasi positif dari kesetaraan adalah munculnya pengetahuantingkat kesiapan alumni untuk memasuki pasar global maupun untukmemasuki jenjang pendidikan lebih tinggi di luar negeri. Akreditasi,sertifikasi maupun asesmen internasional selain mempermudah mobilitaslulusan ke pasar kerja global, juga semakin membuka mobilitas bagi stafdan mahasiswa ke seluruh dunia. Dan sebaliknya, rekognisi internasional6

juga meningkatkan minat dan kepercayaan mahasiswa asing masukprogram studi di perguruan tinggi Indonesia. Bagi perguruan tinggi danprogram studi, internasionalisasi juga memberikan keuntungan berupapeningkatan jumlah kerjasama/ jejaring dalam penelitian dan pengabdiandengan perguruan tinggi luar negeri.1.1.4 Ketersediaan Sumber Daya Manusia, Sarana/Prasarana, danPembiayaanParadigma pentingnya akreditasi/sertifikasi internasional adalahmenjadikan capaian pembelajaran, asesmen dan evaluasi pencapaiannyasebagai basis penjaminan mutu dan perencanaan strategi akademik bagisuatu Perguruan Tinggi. Hal ini menuntut perubahan dalam berbagaiaspek pelaksanaan pendidikan untuk memiliki fokus utama pada hasil(outcomes) dan tidak lagi pada proses. Inilah yang biasa disebut outcomesbased education, yaitu mulai dari penentuan profil lulusan, penentuancapaian pembelajaran, perancangan kurikulum, asesmen capaianpembelajaran, evaluasi, dan tindakan perbaikan berkelanjutan. Selainperubahan mendasar tersebut, perguruan tinggi dan program studi jugaharus mengawal dan memelihara keberlangsungan proses pembelajaran,serta meningkatkan budaya mutu secara berkesinambungan.Langkah-langkah dan upaya yang harus dilakukan oleh perguruantinggi dan program studi bukan suatu hal yang mudah, namun upayatersebut tetap harus dilaksanakan dengan perencanaan yang baik, danpembagian tahapan kerja yang cermat serta seksama. Setiap programstudi yang hendak mempersiapkan akreditasi/sertifikasi internasionalselayaknya membentuk tim yang terdiri atas sumber daya manusia yangsmart, yang dapat mengkoordinasikan dan mengoptimalkan seluruhsumber daya yang tersedia dan didukung oleh kebijakan hinggamanajemen puncak di perguruan tinggi. Para pimpinan perguruan tinggidan program studi selayaknya mempunyai komitmen serta wawasan yangmemadai tentang akreditasi/sertifikasi internasional, agar dapatmerancang kebijakan dan mengalokasikan dukungan anggaran yangmendukung dalam upaya mempersiapkan langkah-langkah mencapaiakreditasi/sertifikasi internasional. Perguruan tinggi dan program studiperlu memaksimalkan peran alumni, industri dan pemerintah daerah7

(stakeholder) untuk ikut membangun pendidikan tinggi yang mengarahpada pencapaian akreditasi/sertifikasi internasional. Perlu pula diperkuatkerjasama lintas institusi untuk saling mendukung kelengkapan saranadan prasarana pendidikannya. Hal ini karena tidak jarang diperlukankelengkapan yang tidak semua dapat diakomodasi secara internalperguruan tinggi tetapi harus dengan kerjasama. Dalam konteks iniinstitusi perguruan tinggi hendaknya jangan menjadikan sertifikatakreditasi/sertifikasi internasional sebagai tujuan semata, tapi menjadiproses perbaikan program studi secara menyeluruh yangberkesinambungan.1.1.5 Akreditasi/Rekognisi Internasional sebagai Bagian dariKedaulatan NegaraMasuknya perguruan tinggi asing berkualitas ke Indonesia dapatdibaca menjadi peluang untuk membangun kesejajaran dan kolaborasi.Perguruan tinggi asing yang ingin menyelenggarakan pendidikan tinggi diIndonesia selain harus mematuhi peraturan perundang-undangandiharapkan nantinya dapat bekerja sama dengan perguruan tinggiIndonesia. Untuk itu, rekognisi internasional akan lebih menjaminterjadinya kerjasama yang resiprokal, saling menguntungkan antar satudengan yang lain. Akreditasi nasional yang juga diarahkan menuju setaradengan internasional juga akan semakin menjamin kualitas pendidikanyang diterima masyarakat Indonesia dari ancaman masuknya perguruantinggi asing yang tidak berkualitas atau yang hanya mementingkan faktorkomersial. Kedua hal tersebut adalah strategi yang perlu dibangun dalamrangka mewujudkan pendidikan yang berdaulat dan mandiri.8

1.2Landasan HukumLandasan hukum yang dirujuk dalam penyusunan peta jalan iniadalah sebagai berikut:a. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi;b. didikanc. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang PenyelenggaraanPendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi;d. Permenristekdikti Nomor 15 Tahun 2015 tentang Organisasi dan TataKerja Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggie. Permenristekdikti Nomor 32 Tahun 2016 tentang Akreditasi ProgramStudi dan Perguruan Tinggif. Permenristekdikti Nomor 62 Tahun 2016 tentang Sistem PenjaminanMutu Pendidikan Tinggi;g. Permenristekdikti Nomor 50 Tahun 2017 tentang Rencana StrategisKemenristekdikti Tahun 2015-2019;1.3TujuanTujuan penyusunan peta jalan ini adalah sebagai berikut:a. Sebagai panduan dan pedoman umum Kementerian Ristekdikti untukmengembangkan programnya dalam membina perguruan tinggi agarmutu perguruan tinggi di Indonesia diakui internasional;b. Sebagai gambaran umum bagi Kementerian Ristekdikti dan institusipendidikan persyaratan dan proses mencapai reputasi/pengakuaninternasional, antara lain melalui: akreditasi/sertifikasi internasionalsebagai bagian upaya peningkatan penjaminan mutu;c. Sebagai panduan bagi perguruan tinggi dalam merencanakan strategidan tahapan pengembangan penjaminan mutunya, khususnyapenjaminan mutu di tingkat program studi agar program studi tersebutdapat terakreditasi/tersertifikasi internasional;9

d. Sebagai pedoman awal bagi perguruan tinggi dan program studi untukmencapai rekognisi (pengakuan) internasional.1.4SasaranDengan tersusunnya peta jalan ini diharapkan tercapainya sasaransebagai berikut:a. Dapat dikeluarkannya kebijakan dari Kementerian Ristekdikti dalamupaya mengembangkan kesetaraan mutu antara perguruan tinggi diIndonesia dengan lingkungan internasional;b. Dapat dilaksanakannya program fasilitasi oleh Kementerian Ristekdiktidalam rangka percepatan akreditasi/sertifikasi internasional programstudi;c. Dapat tersusunnya kebijakan SPMI di perguruan tinggi Indonesia yangmerujuk pada penjaminan mutu yang sejalan dengan penjaminan mutuakreditasi/ sertifikasi/ asesmen internasional;d. Dapat tersusunnya rencana dan strategi serta tahapan pengembanganprogram studi menuju terakreditasi/sertifikasi/asesmen internasionaldi institusi pendidikan tinggi di Indonesia.10

BAB IIKONSEP DASAR a banyak istilah yang relevan yang dapat menunjukkan sebuahinstitusi dikenal di dunia internasional. Di peta jalan ini dipakai istilah“rekognisi” (recognition) sebagai konsep payung bagi berbagai bentukstatus formal bagi institusi pendidikan yang menunjukkan secara khususpengakuan kesetaraan oleh lingkungan internasional. Status “formal” dan“setara” ini penting dalam Peta Jalan ini karena menunjukkan esensikualitas yang ingin dituju.Kata rekognisi dipakai untuk hal-hal yang sifatnya umum danapabila merujuk pada satu konsep rekognisi yang spesifik maka akandigunakan istilah yang spesifik tersebut. Variasi rekognisi internasional iniperlu dielaborasi agar perbedaannya dapat dipahami dan dipergunakansecara tepat.a. Akreditasi. Istilah ini biasanya merupakan pengakuan terhadaplembaga pendidikan yang diberikan oleh badan yang berwenang,sebagai hasil penilaian bahwa lembaga tersebut telah memenuhisyarat/kriteria mutu yang ditetapkan. Istilah ini paling banyak dipakaidan sering dikaitkan dengan hak tertentu bagi lulusan dari institusiterakreditasi. Akreditasi ditujukan kepada institusi penyelenggarapendidikan (program studi misalnya) dan bukan kepada lulusan. ABETmisalnya menuliskan bahwa akreditasi adalah “proof that a collegiateprogram has met standards essential to produce graduates ready to enterthe critical fields of STEM eduation”, seperti bisa dilihat pada link reditation/why-abetaccreditation-matters/). Keuntungan bagi mahasiswa/lulusan diantaranya yang terpenting adalah menjadi eligible dalam proses lisensikerja.b. Sertifikasi. Istilah ini banyak dipakai untuk bukti kepada lulusan telahmemenuhi kriteria kelulusan dan melalui proses pembelajaran dan11

evaluasi yang sesuai dengan kriteria/standar yang ditetapkan olehsuatu badan internasional. Pada umumnya, sertifikat yang diberikankepada mahasiswa atau lulusan ini menunjukkan atau mensyaratkanbahwa institusi penyelenggaranya juga menunjukkan kesetaraan dankesesuaian dengan standar dan prosedur dari badan internasionaltersebut. Contoh yang dapat diterapkan dalam sertifikasi ini adalahsertifikasi ACCA yang menunjukkan lulusan dapat memperoleh“Certificate of Achievement” yang dapat dipakai untuk pengembangankarir profesionalnya secara global. Hal ini bisa dilihat pada link -certificates.html).c. Validasi. Istilah ini merupakan proses pembuktian menggunakanmetode yang tepat untuk memastikan tiap bahan, proses, prosedur,kegiatan, sistem, perlengkapan atau mekanisme yang dilakukan padalembaga sehingga hasil dan pengawasan akan senantiasa mencapaihasil yang direncanakan. Validasi terkadang dipakai untuk rekognisiBadan Akreditasi Nasional oleh badan yang mempunyai otoritas di levelinternasional. Di bidang arsitektur misalnya, International Union ofArchitects (UIA) melakukan validasi terhadap board of accreditationdari negara anggotanya untuk menunjukkan kesetaraan kualitas(substantial equivalency) seperti bisa dilihat pada link 95%20D.pdf).d. Asesmen. Istilah ini merupakan suatu proses pengumpulan dananalisis data/informasi secara sistematik sebagai dasar perencanaan,dan pengembangan mutu lembaga secara berkelanjutan. ASEANUniversity Network (AUN) menggunakan istilah “Quality Assessment”untuk menunjukkan masing-masing anggota menerima penilaian silang,“cross-external audits using commonly agreed upon auditinginstruments,” untuk kriteria-kriteria yang telah disepakati, seperti .1 AUNQAGuidelines.pdf).e. Surveilan. Istilah ini sering digunakan dalam rekognisi internasionalyang merupakan indikasi aktivitas pengawasan berkala yang rusmenerus/periodik dan sistematis untuk memastikan

Roadmap ini disusun melalui berbagai kegiatan intensif oleh tim yang beranggotakan perguruan tinggi yang terbukti secara nyata telah mempersiapkan, menjalankan proses, dan mendapatkan akreditasi . Timeline Proses Akreditasi ABET _ 19 Gambar 2.2. AUN-QA Models for Higher Education _ 22 Gambar 2.3. AUN-QA Models for program level (ver 3 .