Transcription

HikayatBayan BudimanCerita RakyatDisadur oleh:Ekawatieka [email protected] Tulisan:Haniah

Hikayat Bayan BudimanPenyadur : EkawatiPenyunting : Dony SetiawanIlustrator : EorGPenata Letak: Asep Lukman & Rizki ArdevaDiterbitkan ulang pada tahun 2016 oleh:Badan Pengembangan dan Pembinaan BahasaJalan Daksinapati Barat IVRawamangunJakarta TimurHak Cipta Dilindungi Undang-UndangIsi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya, dilarang diperbanyakdalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penerbit, kecuali dalam halpengutipan untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.2

Kata PengantarKarya sastra tidak hanya rangkaian kata demi kata, tetapi berbicara tentang kehidupan,baik secara realitas ada maupun hanya dalam gagasan atau cita-cita manusia. Apabilaberdasarkan realitas yang ada, biasanya karya sastra berisi pengalaman hidup, teladan, danhikmah yang telah mendapatkan berbagai bumbu, ramuan, gaya, dan imajinasi. Sementaraitu, apabila berdasarkan pada gagasan atau cita-cita hidup, biasanya karya sastra berisi ajaranmoral, budi pekerti, nasihat, simbol-simbol filsafat (pandangan hidup), budaya, dan lainsebagainya yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Kehidupan itu sendiri keberadaannyasangat beragam, bervariasi, dan penuh berbagai persoalan serta konflik yang dihadapi olehmanusia. Keberagaman dalam kehidupan itu berimbas pula pada keberagaman dalam karyasastra karena isinya tidak terpisahkan dari kehidupan manusia yang beradab dan bermartabat.Karya sastra yang berbicara tentang kehidupan tersebut menggunakan bahasasebagai media penyampaiannya dan seni imajinatif sebagai lahan budayanya. Atas dasarmedia bahasa dan seni imajinatif itu, sastra bersifat multidimensi dan multiinterpretasi.Dengan menggunakan media bahasa, seni imajinatif, dan matra budaya, sastra menyampaikanpesan untuk (dapat) ditinjau, ditelaah, dan dikaji ataupun dianalisis dari berbagai sudutpandang. Hasil pandangan itu sangat bergantung pada siapa yang meninjau, siapa yangmenelaah, menganalisis, dan siapa yang mengkajinya dengan latar belakang sosial-budayaserta pengetahuan yang beraneka ragam. Adakala seorang penelaah sastra berangkat darisudut pandang metafora, mitos, simbol, kekuasaan, ideologi, ekonomi, politik, dan budaya,dapat dibantah penelaah lain dari sudut bunyi, referen, maupun ironi. Meskipun demikian,kata Heraclitus, “Betapa pun berlawanan mereka bekerja sama, dan dari arah yang berbeda,muncul harmoni paling indah”.Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari membaca karya sastra, salah satunyamembaca cerita rakyat yang disadur atau diolah kembali menjadi cerita anak. Hasil membacakarya sastra selalu menginspirasi dan memotivasi pembaca untuk berkreasi menemukansesuatu yang baru. Membaca karya sastra dapat memicu imajinasi lebih lanjut, membukapencerahan, dan menambah wawasan. Untuk itu, kepada pengolah kembali cerita ini kamiucapkan terima kasih. Kami juga menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasihkepada Kepala Pusat Pembinaan, Kepala Bidang Pembelajaran, serta Kepala Subbidang Moduldan Bahan Ajar dan staf atas segala upaya dan kerja keras yang dilakukan sampai denganterwujudnya buku ini.Semoga buku cerita ini tidak hanya bermanfaat sebagai bahan bacaan bagi siswa danmasyarakat untuk menumbuhkan budaya literasi melalui program Gerakan Literasi Nasional,tetapi juga bermanfaat sebagai bahan pengayaan pengetahuan kita tentang kehidupan masalalu yang dapat dimanfaatkan dalam menyikapi perkembangan kehidupan masa kini dan masadepan.Jakarta, 15 Maret 2016Salam kami,Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum.Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan BahasaI

Sekapur SirihSalah satu cara untuk melestarikan khazanah sastra danbudaya masyarakat Indonesia adalah dengan mengangkat kembalicerita rakyat. Dalam cerita rakyat banyak ditemukan nilai-nilaibudaya. Nilai budaya yang bisa menunjang pembangunan, diantaranya, adalah nilai budaya yang mendorong untuk selalu giatberusaha, bersyukur, sabar, cinta tanah air, jujur, suka menolong,dan nilai-nilai luhur lainnya. Nilai-nilai tersebut perlu diwariskankepada generasi muda penerus bangsa.Bayan Budiman merupakan salah satu cerita rakyat yangsarat dengan nilai-nilai luhur, seperti imbauan atau ajakan untukselalu berbuat kebaikan dan unsur keagamaan. Cerita ini berlatarnegeri Hindustan yang ditulis dengan bahasa Melayu Klasik.Cerita ini termasuk cerita berbingkai, sebagaimanacerita klasik pada umumnya. Judul aslinya adalah Hikayat BayanBudiman yang ditransliterasi oleh Hani’ah. Cerita Hikayat BayanBudiman ini digarap dengan sedikit perubahan sehingga dapatmenjadi bahan bacaan siswa sekolah menegah atas.EkawatiII

Daftar IsiKATA PENGANTAR.ISEKAPUR SIRIH.IIDAFTAR ISI.III1. Burung Bayan .13. Burung Bayan Dipelihara Saudagar .52. Bayan Ditangkap Orang Tua Penjual Burung .4. Saudagar Pergi Berlayar .5. Bayan Bercerita tentang Istri yang Salihah .6. Putra Raja Datang ke Rumah Khoja Maimun .7. Bayan Bercerita tentang Seorang Istri Durhaka .8. Bayan Bercerita tentang Saudara yang Berkhianat .BIODATA.III2132441455661

BURUNG BAYANDalam cerita ini disebutlah nama Bayan yang budiman.Bayan adalah nama burung yang dapat berbicara, baik hati, danmemiliki sifat-sifat terpuji seperti layaknya manusia. Ia punpandai bercerita tentang segala hal yang mengandung hikmahbagi siapa pun yang mendengarnya. Isi ceritanya biasanya berupanasihat yang bermanfaat, khususnya bagi manusia, seperti ceritatentang anak yang harus berbakti kepada kedua orang tuanya,istri yang harus setia kepada suaminya, dan manusia yang harusselalu berdoa memohon pertolongan Allah, Tuhan semesta alamini. Ia tidak mau berbuat jahat, keji, dan berbicara yang tidak adamanfaatnya. Oleh karena itulah, ia disebut burung bayan yangbudiman.Pada suatu hari sekawanan burung bayan asyikberterbangan dengan bebas. Mereka berkejar-kejaran danhinggap di satu pohon dan berpindah ke pohon yang lain dengansukacitanya. Namun, kebebasan mereka tiba-tiba terhenti karenaketika mereka hinggap di salah satu pohon yang sangat besar,sayap-sayap mereka lengket di daun dan ranting pohon itusehingga mereka pun tidak dapat lagi terbang ke sana kemari.Kawanan burung bayan itu berjumlah seratus ekor,salah satunya adalah Raja Bayan. Sebagai pemimpin, Raja Bayanmenyampaikan idenya kepada bayan-bayan yang lain, “Kawankawan, ketahuilah bahwa kita terkena jebakan manusia, tetapikita harus tetap tenang. Hari sudah malam dan besok pagimanusia yang menjebak kita pasti datang. Ketika dia datang, kitasemua harus berpura-pura mati. Tahan napas kalian dan jangansampai ada yang bergerak. Dia pasti akan mengambil kita satu persatu dan menjatuhkan kita ke tanah. Siapa pun di antara kita yangterlebih dahulu dijatuhkan ke tanah harus tetap diam dan janganlangsung terbang sebelum semuanya jatuh ke tanah.” Bayanbayan yang lain pun mengerti dan berjanji akan menaati perintahraja mereka.1

BAYAN DITANGKAPORANG TUA PENJUAL BURUNGDi suatu negeri, hiduplah seorang tua bersama keluarganya.Pekerjaan orang tua itu sehari-hari adalah menangkap burung danayam di hutan. Ayam dan burung hasil tangkapannya lalu dijual dipasar. Uang hasil menjual ayam dan burung itulah yang dipakaiuntuk menghidupi keluarganya.Seperti biasanya, pada pagi hari orang tua itu bergegaspergi ke hutan.“Aku ikut, Ayah,” pinta anak orang tua itu.“Jangan, Nak!,” jawab orang tua itu.“Aku ingin membantu Ayah menangkap ayam dan burung,”kata anaknya.Orang tua itu tersenyum sambil mengelus kepala anaknyayang sudah remaja itu, lalu berkata, “Kau di rumah saja menemaniibumu. Ayah hanya pergi sebentar saja karena ayah tidak lagimencari-cari burung atau ayam yang akan ditangkap. Kali iniayah pergi ke hutan hanya untuk mengambil burung-burung yangsudah melekat di dahan-dahan dan ranting pohon.”“Maksud Ayah burung-burung itu sudah pasti ada dipohon itu?” tanya si anak.Ayahnya menjawab, “Ya, Nak. Kemarin siang ayah sudahmengolesi daun dan ranting dengan lem perekat di pohon yangpaling besar. Burung-burung itu sekarang pasti sudah lengket dipohon itu. Jadi, pagi ini ayah tinggal mengambilnya saja.””Wah, pasti banyak burung yang Ayah bawa pulang nanti”,kata anaknya dengan mata berbinar-binar.“Ya, kita lihat nanti. Sekarang ayah berangkat dulu, ya?”2

Ketika sampai di hutan, orang tua itu langsung menujusebuah pohon yang paling besar. Dilihatnya banyak burung bayanmenempel di daun-daun dan ranting pohon itu. Ia segera melepasbajunya, lalu sambil membawa golok ia memanjat pohon besar itu.Sesampai di atas, ia melihat burung-burung itu diam seperti sudahtak bernyawa, lalu diambilnya satu per satu dan dijatuhkannya ketanah.Dalam waktu yang tidak lama, sudah ada 99 ekorburung bayan yang dijatuhkannya ke tanah. Ia melihat tinggalseekor lagi yang belum diambilnya karena burung yang satu itumenempel pada dahan yang lebih tinggi. Tatkala orang tua ituakan menjangkau burung itu, tiba-tiba golok yang dia selipkan dicelananya terjatuh.Burung bayan yang sudah berada di tanah mengira yangjatuh itu adalah temannya yang tinggal seekor lagi. Lalu, sesuaidengan rencana apabila sudah genap seratus yang dijatuhkan ketanah, burung-burung bayan itu segera terbang bersama-sama.Bayan yang berjumlah 99 itu tidak tahu bahwa suara benda jatuhitu adalah sebuah golok, bukan temannya.Alangkah terkejutnya orang tua itu mendengar danmelihat burung-burung bayan yang berjumlah 99 itu tiba-tibaberhamburan terbang menjauh. Ia merasa telah diperdaya olehkawanan burung itu. Tinggallah seekor burung lagi yang masihmenempel di daun. Karena tidak ingin tertipu lagi, burung bayanitu tidak dijatuhkannya ke tanah. Burung itu terus digenggamnyasampai ia turun dari pohon besar itu.Sesampainya di bawah, ia berkata kepada burung itu,“Bangunlah, wahai, burung! Aku tahu kau hanya berpura-puramati.” Burung yang tinggal seekor itu ternyata Raja Bayan. Burungitu membuka matanya tanpa berkata apa pun.Dalam perjalanan pulang, orang tua penangkap burungitu sedih hatinya karena membayangkan wajah anak dan istrinyayang kecewa akan hasil tangkapannya hari ini. Ia hanya dapatmembawa pulang seekor burung. Padahal, burung yang terkenajebakannya sangat banyak.3

Sesampainya di rumah, ia disambut anak istrinya. Benardugaannya, anak dan istrinya tampak keheranan melihatnyapulang dengan hanya membawa seekor burung. Diperlihatkannyaburung itu kepada anaknya.“Bagus sekali burung ini, Ayah! Janganlah dijual burungini. Lebih baik kita pelihara saja,” pinta anaknya.Orang tua itu berkata, “Burung itu akan kita bawa ke pasaruntuk dijual. Kita tidak bisa memeliharanya. Untuk makan kitasehari-hari saja tidak cukup.”Keesokan harinya dibawanya burung itu ke pasar. Tibatiba ada seorang saudagar menghampirinya, lalu berkata, ”Berapakaujual burung itu?”tua itu.“Terserah berapa saja Tuan menghargainya,” jawab orangSaudagar itu merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapakeping uang tanpa dihitungnya, lalu diserahkannya kepada orangtua itu. Setelah itu, saudagar itu pergi meninggalkannya sambilmembawa burung itu. Orang tua itu kemudian menghitung uangyang diterimanya dari saudagar itu. Ia sangat terkejut dan hampirtak percaya pada sejumlah uang yang ada dalam genggamannya.“Enam ratus dinar. Wah, banyak sekali,” bisiknya dalam hati.Kemudian, dengan perasaan gembira, ia bergegas pulang.4

BURUNG BAYAN DIPELIHARA SAUDAGARSaudagar yang membeli burung bayan di pasar itu bernamaKhoja Maimun. Saudagar itu membeli burung bayan tidak karenaia senang memelihara burung, tetapi karena rasa kasihannyakepada binatang yang terus dikurung. Biarlah burung itu bebasterbang, begitu pikirnya. Oleh karena itu, dalam perjalanan pulangke rumahnya, Khoja Maimun melepas burung itu.Namun, burung itu keluar dari sangkarnya dan terbangrendah mengiringi langkah-langkah saudagar itu. Tentu sajahal itu membuat Khoja Maimun merasa heran. Terus diusirnyaburung itu, tetapi burung itu tetap terus terbang dekat dengannya.Khoja Maimun mengusirnya kembali. Burung itu lalu terbangmenghilang dari pandangan Khoja Maimun.Tak lama kemudian saudagar itu sampai di rumahnya.Belum sampai membuka pintu, ia dikejutkan oleh suara,“Assalamualaikum, Tuan.”Khoja Maimun melihat di sekelilingnya tidak ada manusia.“Lalu siapakah yang mengucapkan salam kepadaku?” bisiknyadalam hati.“Assalamualaikum, Tuan,” suara itu kembali terdengar.Khoja Maimun mencari asal suara itu dan ia melihatke atas pohon. Betapa lebih terkejutnya ia ketika di dahan ituia melihat burung yang tadi dilepasnya dan telah diusirnya kiniberada di dahan pohon di pekarangan rumahnya. Ia pun hampirtidak percaya karena burung itu bisa berbicara seperti layaknyamanusia.Raja Bayan terbang mendekat sambil berkata, “Tuan, maafhamba telah mengejutkan Tuan. Perkenalkan nama hamba Bayan.Hamba ingin Tuan bisa menerima hamba untuk tinggal di rumahTuan.”5

“Hai, Bayan. Aku senang berkenalan denganmu. Akantetapi, bukankah aku sudah melepaskanmu dan menyuruhmuterbang bebas? Mengapa kau kemari dan tidak terbang bersamateman-temanmu?” tanya Khoja Maimun heran.“Izinkan hamba mengabdi kepada Tuan. Tuan adalah orangyang baik hati karena telah membebaskan hamba. Hamba sangatberterima kasih kepada Tuan. Sebagai ungkapan rasa terima kasihitu, hamba ingin mengabdikan diri hamba kepada Tuan.”Khoja Maimun tersenyum sambil tangannya membelaiburung itu. Ia benar-benar terharu mendengar permohonanburung itu. Ia membuka pintu rumahnya dan menyuruh burungitu masuk. Burung itu diperkenalkannya kepada istrinya.Istri Khoja Maimun tampak keheranan melihat suaminyapulang bersama seekor burung. Keheranannya pun bertambahlagi ketika mengetahui burung itu bisa berbicara seperti layaknyamanusia. Khoja Maimun dan istrinya sangat senang dengankedatangan burung bayan itu.Burung bayan itu lalu bercerita di hadapan suami-istri itu.“Tuanku berdua, ketahuilah bahwa hamba adalah burung yangselain bisa berbicara, juga mempunyai perasaan seperti manusia.Tuanku perempuan belum tahu asal mula hamba ingin mengabdikepada Tuanku berdua di sini. Izinkan hamba bercerita, Tuankuperempuan.”Khoja Maimun dan istrinya bertambah rasa senangnyakarena akan mendapat cerita dari burung bayan itu. Istri khojaMaimun berkata, “Hai, Bayan, rasanya sudah tak sabar lagi akumendengar ceritamu. Cepatlah ceritakan kepada kami perasaanmuitu.”Burung bayan itu memulai ceritanya, “Tuanku berdua,ketahuilah bahwa mulanya hamba tidak sendirian seperti ini.Hamba bersama teman-teman hamba yang berjumlah seratusekor hidup bebas. Namun, kami terperangkap dalam jebakanseorang penangkap burung. Kemudian, teman-teman hamba6

yang berjumlah 99 ekor bisa meloloskan diri dan terbang entahke mana. Tinggallah hamba sendiri yang berhasil ditangkap olehorang itu. Keesokan harinya orang itu menjual hamba di pasardan Tuan laki-laki inilah yang membeli hamba. Setelah membelihamba, Tuan laki-laki ini membebaskan hamba. Ia mengeluarkanhamba dari sangkar. Namun, hamba bukanlah termasuk burungyang tidak tahu berterima kasih kepada orang yang telah berbuatbaik kepada hamba. Hamba sangat berterima kasih kepada Tuanlaki-laki. Sebagai ungkapan rasa terima kasih hamba, izinkanhamba mengabdi kepada Tuan berdua.”Istri Khoja Maimun terharu bercampur senang mendengarcerita burung bayan. Lalu ia berkata, “Tuan Bayan, kami sangatsenang kamu mau tinggal bersama kami di rumah ini. Rumah inisepi. Kebetulan kami tak mempunyai anak. Jadi, keberadaanmubisa meramaikan rumah ini.”Khoja Maimun berkata, “Bayan, kau burung yang baik.Kami senang kau tinggal di sini. Jarang ada burung sepertimu.Mudah-mudahan kau nyaman tinggal bersama kami.”“Wahai, Tuanku laki-laki. Hamba adalah burungbayan yang berbeda dengan burung-burung yang lain, burungcemperling, misalnya. Hamba mempunyai cerita tentang burungcemperling, Tuan. Maukah Tuan berdua mendengarkan ceritahamba ini?” tanya Bayan.“Tentu saja kami mau mendengarkannya, Bayan.” kataKhoja Maimun.Bayan pun mulai bercerita.Ada anak raja sedang berjalan-jalan ke hutan bersamapara dayangnya. Di sana anak raja itu belajar berburu. Di sana punbanyak anak-anak bermain. Mereka saling berkejar-kejaran.Anak raja itu sangat senang. Pada saat ia sedangmemandang anak-anak berlarian, tiba-tiba jatuh di hadapannyaanak burung yang masih sangat kecil. Anak raja itu pun menyuruhpara dayangnya untuk mencari di mana sarang burung itu.7

“Tuanku, sarang burung itu tak jauh dari sini. Itu, dekatpohon besar itu,” kata dayangnya.Hai, Dayang, mengapa jauh sekali anak burung ini jatuhdari sarangnya?” tanya anak raja itu.Dayangnya menjawab, “Tuanku, anak-anak itu memanjatpohon beramai-ramai sehingga pohon pun bergoyang danjatuhlah anak burung itu. Hamba sudah menemukan sarangnyadan ternyata yang ini hanya salah satu anaknya.”“Jadi, ada berapa anak burung lagi di dalam sarangnya,Dayang?” tanya anak raja itu.Dayangnya menjawab, “Hamba melihat ada satu lagi anakburung yang masih berada di dalam sarangnya, Tuan.”Anak raja itu merasa kasihan kepada anak burung itu, laludisuruhnya para dayangnya untuk mengambil anak burung yangmasih berada di sarangnya. Anak raja itu ingin membawa pulangkeduanya untuk dipelihara.Salah seorang dayang segera memanjat pohon danmengambil satu lagi anak burung yang berada di dalam sarang.Setelah itu, anak raja itu mengajak para dayangnya pulang kembalike istana karena khawatir anak-anak burung itu mati jika terlalulama tidak diberi makan.Di istana, Raja dan Permaisuri sangat gelisah menantikedatangan putranya. Raja bertanya kepada dayang istana,“Dayang, apakah sudah ada kabar dari anakku kapan ia akanpulang? Aku sudah sangat merindukannya.”“Siap, Paduka. Akan hamba tanyakan kepada dayangdayang yang lain,” jawab dayang itu.Tak lama kemudian dua orang dayang datang menghadapraja memberi kabar bahwa putranya akan segera tiba di istana.Raja dan Permaisuri bergegas berjalan menuju pelataranmenyambut kedatangan putranya. Ketika melihat putranya dari8

kejauhan, Permaisuri tidak kuasa menahan gejolak rindunya. Iapun berlari menuju putranya lalu mendekapnya serta menciumikedua pipinya.Anak raja itu menghadap ayahandanya dengan diiringiibunda permaisuri. Sampai di hadapan ayahandanya, ia berlututmemberi hormat.“Anakku, ayah sudah sangat rindu kepadamu. Ke manakahkau pergi bermain, Nak?” tanya Raja.“Ayah, ananda bermain sampai ke gunung dan di sanaananda belajar berburu.”“Adakah hasil buruanmu, Nak?” tanya Raja.“Ananda tidak membawa hasil buruan, Ayah. Akan tetapi,ada yang ananda bawa pulang, yaitu dua ekor anak burung.”Raja membelalakkan mata dan bertanya, “Burung? Burungapakah yang Ananda bawa pulang?”“Kata para dayang itu mereka adalah anak burungcemperling, Ayah,” sahut Anak Raja.“Ananda suruh pelihara kedua anak burung itu karenaananda merasa kasihan melihatnya terlantar tanpa induknya.”Raja dan Permaisuri mengangguk-anggukkan kepalasambil tersenyum.Anak Raja menyuruh para dayangnya membuatkansangkar untuk kedua anak burung itu. Setelah selesai dibuat,sangkar burung itu tampak sangat mewah karena terbuat dariperak bertahtakan emas dan mutu manikam. Anak burung itudiberi makan yang enak-enak. Keduanya makan dengan lahapnya.Anak raja itu merasa senang melihat tingkah kedua anak burungitu. Dalam hatinya, ia berkata, “Sangatlah pantas kedua burung ituberada di dalam sangkarnya yang mewah itu.”9

Pada suatu hari Raja mengadakan jamuan santap malambersama seluruh menteri, petinggi kerajaan, para prajurit, dandayang, serta beberapa tamu undangan dari kerajaan lain. Seluruhanggota kerajaan menjadi sibuk mengatur dan mempersiapkannya.Berbagai hidangan yang lezat-lezat diletakkan di meja panjang.Para tamu diperbolehkan makan hingga kenyang. Beberapa tamusudah mulai berdatangan.Anak Raja mengeluarkan anak burung cemperling darisangkarnya. Keduanya diletakkannya di atas permadani. Anakanak cemperling itu sangat senang. Mereka bermain-mainsambil melompat-lompat di atas permadani. Banyak tamu yangmenonton tingkah laku lucu kedua anak burung dan mereka punsangat senang. Siapa pun yang melihat aksi kedua anak burung itupastilah tertawa. Mereka merasa terhibur. Anak Raja mengetahuihal itu. Ia sangat bangga dengan keduanya.Para tamu sudah semakin banyak yang berdatangan.Jamuan makan pun segera dimulai. Suara hiruk-pikuk mulai ramaiterdengar. Para tamu sudah mulai menyantap hidangan yang sudahtersedia. Sementara itu, Anak Raja yang sangat bangga terhadaptingkah kedua anak burung itu sibuk memindahkan keduanya kepermadani yang lebih bagus. Anak Raja mengharapkan semuatamu yang hadir dapat menonton aksi kedua anak burung itusambil menyantap hidangan.Burung cemperling itu memang tidak tahu berterimakasih. Mereka sangat jahat. Seharusnya mereka menyenangkanhati tuannya dengan turut menghibur para tamu. Namun, justruyang terjadi sebaliknya. Anak burung cemperling itu tiba-tibamembuang kotoran yang banyak sekali di atas permadani yangmewah itu pada saat seluruh tamu sedang terpusat perhatiannyakepada mereka. Setelah itu keduanya terbang jauh dan tidakkembali lagi.Hal itu tentu membuat Anak Raja kecewa bercampur malu.Bukan hanya Anak Raja yang merasa malu, melainkan juga keduaorang tuanya, Raja dan Permaisuri.10

11

“Itulah, Tuan, cerita hamba tentang perilaku burungcemperling yang jahat dan tidak tahu berterima kasih kepadatuannya. Berbeda dengan hamba ini. Hamba sangat berterimakasih kepada Tuan laki-laki yang telah membebaskan hamba.Oleh sebab itu, hamba ingin membalas kebaikan Tuanku. Izinkanhamba mengabdi kepada Tuan berdua.”Khoja Maimun dan istrinya baru mengetahui tentanghalnya burung bayan. Ternyata sifat-sifat dan perilaku burungbayan sangat jauh berbeda dengan burung cemperling. “Bagussekali ceritamu itu, Tuan Bayan. Jika Tuan tidak bercerita tentangburung cemperling, tentu kami tidak tahu sifat-sifatnya yang tidakbaik,” kata istri Khoja Maimun.12

SAUDAGAR PERGI BERLAYARKhoja Maimun bersiap-siap akan pergi berlayar. Sebagaisaudagar, ia akan menjual barang dagangannya ke negeri Yaman.Hal itu sudah dibicarakannya dengan istrinya.Istri Khoja Maimun membantu suaminya menyiapkansegala perlengkapan yang akan dibawa suaminya. Apalagi, ia tahusuaminya akan pergi meninggalkannya dalam waktu yang agaklama.Pagi-pagi sekali Khoja Maimun meninggalkan rumahnya.Namun, sebelumnya ia berpamitan dengan istrinya dan tidak lupaia pun berpamitan kepada Bayan. Bahkan, ia berpesan kepadaBayan, “Hai, Bayan, aku hendak pergi berdagang ke suatu negeriyang jauh. Kepergianku cukup lama. Untuk mencapai negeriitu aku harus berlayar beberapa hari lamanya. Untuk itu, akumenitipkan istriku padamu. Temani dan jagalah istriku, Bayan.”Bayan sangatlah senang mendapat tugas dan sekaligusmendapat kepercayaan dari tuannya untuk menjaga istrinya.Dengan begitu ia membalas kebaikan tuannya. “Baiklah, Tuan.Insya Allah akan hamba jaga tuanku perempuan. Dalam perjalanannanti, jangan lupa Tuan terus berdoa kepada Allah agar Tuanselamat sampai di tujuan.”Setelah itu, Khoja Maimun pergi meninggalkan rumahnya.Kini tinggallah istri Khoja Maimun dan burung bayan di dalamrumah itu.Pada suatu hari kampung tempat tinggal Khoja Maimunramai. Hampir semua warga kampung itu keluar rumah. Kampungmereka sedang kedatangan iring-iringan berkuda warga istanakerajaan. Putra mahkota kerajaan beserta para abdi dalemnyamelintas di perkampungan mereka. Rombongan istana kerajaanitu disambut dengan senang hati oleh warga kampung. Merekaingin sekali memandang Putra Raja mereka dari jarak dekat.13

Malam itu Putra Raja tampak murung. Para dayang lalubertanya, “Mengapa Tuan tampak murung malam ini? Padahal,tadi sore hamba lihat Tuan sangat gembira.”Putra Raja menoleh kepada salah seorang dayang yangbertanya lalu ia pun tersenyum walaupun tampak dipaksakan.“Tidak ada apa-apa, kepalaku sedikit pusing. Mungkin kelelahan.”“Jika begitu, ada baiknya Tuan beristirahat saja,” katasalah seorang dayang. Di dalam tendanya Putra Raja terus teringatkepada istri Khoja Maimun. Hatinya telah terkena panah asmara.Semalaman ia sulit memejamkan matanya.Ayam sudah mulai berkokok. Semua dayang danpengawal masih tidur pulas. Putra raja keluar dari tendanya,lalu membangunkan salah seorang dayangnya, “Hai, Dayang.Bangunlah! Persiapkan perbekalan dan kita kembali ke istanapagi ini.”Tentu saja para dayang merasa ada aneh melihat tingkahPutra Raja dengan mendadak mengajak kembali ke istana.Dalamperjalanan pulang, Putra Raja memerintahkan para dayang untukmelewati kampung itu lagi. Ia berharap bisa melihat kembaliwajah cantik istri Khoja Maimun. Para dayang mengarahkan iringiringan berkuda warga istana menuju kampung. Hati Putra Rajatiba-tiba berdegup keras saat melewati kampung itu. Ia melihatbanyak orang di kampung itu memberi hormat kepadanya. Ia punmengumbar senyumnya kepada warga sambil matanya mencaricari sosok perempuan yang telah mengganggu pikirannya sejakkemarin. Namun, ternyata sosok perempuan itu tidak tampak.Karena desakan hatinya yang begitu kuat ingin bertemudengan perempuan itu, ia pun menyuruh dayangnya menghampirisebuah rumah tempat tinggal perempuan itu. Putra Raja turundari kudanya lalu berjalan menuju rumah Khoja Maimun.“Assalamualaikum”, sapanya kepada si empunya rumah.14

“Waalaikumsalam”, jawab yang empunya rumah. Tak lamakemudian pintu terbuka dan muncullah wajah perempuan yangsedang dirindukannya itu.Istri Khoja Maimun tampak gugup. Ia sangat terkejutmelihat putra raja yang berdiri di hadapannya. Sungguh iatak pernah membayangkan akan kedatangan putra rajanya dirumahnya yang sederhana itu. Istri Khoja Maimun langsungmempersilakan tamunya untuk duduk, lalu berkata, “Maaf, Tuan.Ada apa gerangan Tuan bertandang ke rumah hamba?”Putra Raja tersenyum lalu berkata, “Seharusnya akulahyang memohon maaf karena membuatmu terganggu akankedatanganku. Ketahuilah bahwa ketika aku melihatmu untukpertama kalimanya kemarin, aku tak dapat melupakan wajahmu.Maafkan jika aku pun terlalu lancang mengatakan aku telah jatuhcinta kepadamu. Maukah kau kuajak ke istana malam ini?” tanyaPutra Raja kepada istri Khoja Maimun.Istri Khoja Maimun tampak tersipu-sipu karena merasatersanjung. Dalam hatinya ia pun tertarik akan ketampanan PutraRaja. Namun, ia merasa tidak pantas membalas cintanya. Ia punmenjawab, “Tuan, hamba sudah bersuami. Suami hamba sedangpergi berlayar. Hamba merasa tidak pantas menerima cinta Tuan.Hamba mohon maaf, Tuan.”Putra Raja agak terkejut karena baru kali ini ada wanitamenolak cintanya. Setelah itu, dengan perasaan kecewa, ia punpamit dan kembali menunggang kudanya untuk meneruskanperjalanan pulang ke istana.Sesampainya di istana, Putra Raja langsung disambut keduaorang tuanya. Raja dan permaisuri sangat senang putranya telahkembali dengan selamat. Namun, sang putra tidaklah demikian. Iatak banyak berbicara. Setelah sungkem kepada ayah dan ibunya,ia pamit hendak kembali ke istananya untuk beristirahat. Ia tidakmau terlalu lama berhadapan dengan kedua orang tuanya. Iamalu keduanya akan melihat jelas perubahan air mukanya yangsedang memendam rasa rindu dendam kepada perempuan yang15

ditemuinya di perkampungan. Walaupun dirasakan ada keanehanakan perilaku putranya, Raja dan Permaisuri mengizinkanputranya berlalu.Berbeda halnya dengan istri Khoja Maimun, setelahberpisah dengan Putra Raja, perempuan itu merasa heran yangtak terhingga mengapa Putra Raja yang berwajah tampan danbaik hati itu jatuh cinta kepadanya. Ia merasa dirinya hanyalahwarga kampung. Selain itu, ia telah bersuami. Sementara itu, diluar sana banyak perempuan yang jauh lebih muda dan cantikdaripada dirinya.Suara Bayan mengejutkannya, “Tuanku perempuan tidakusah Tuan memikirkannya.” Istri Khoja Maimun menoleh ke arahBayan. Di dalam hatinya, ia membenarkan kata-kata Bayan bahwaia memang sedang memikirkan putra raja. Bayan berkata lagi,“Sudah biasa sifat laki-laki seperti itu, Tuan. Padahal, mungkinia pun sudah beristri atau mempunyai kekasih. Akan tetapi,apabila melihat perempuan lain yang cantik di mana pun, ia punakan tertarik, lalu jatuh cinta. Jangan hiraukan kata-kata manisPutra Raja, Tuan. Tuan akan berdosa dan mendapat murka Allahsubhanahu wa taala apabila Tuanku menuruti permintaan PutraRaja.”Setelah mendengar nasihat Bayan, istri Khoja Maimuntersadar bahwa tindakannya salah. Tidak sepantasnya ia menerimatamu laki-laki di rumahnya pada saat suaminya tak ada di rumah,apalagi menerima cinta dari laki-laki lain. Ia segera beristigfar,lalu memohon ampun kepada Allah subhanahu wa taala.Di istana kecilnya Putra Raja masih terus melamun. Rasarindu kepada istri Khoja Maimun tak kuasa ditahannya lagi. Iamemanggil dayangnya berkata, “Hai, Dayang, tolong panggilkanMak Inang dan suruh dia menghadapku sekarang.”“Baik, Tuanku,” jawab dayang. Mak Inang adalah dayangperempuan yang sudah tua. Ia adalah pengasuh Putra Raja ketikamasih kecil dulu. Bahkan, Putra Raja kerap memanggilnya dengansebutan “Ibu”.16

Tidak lama kemudian dayang itu datang bersama MakInang. “Tuanku, ini Mak Inang. Hamba mohon diri, Tuan.”“Baiklah, Dayang. Terima kasih sudah membawa MakInang ke hadapanku.”Mak Inang berlutut di hadapan Putra Raja, lalu berkata,“Ada perlu apa Tuan Muda memanggil hamba kemari?”“Ibuku, duduklah di sini di dekatku.” Mak Inang berpindahtempat dan duduk di sebelah Putra Raja.Putra Raja mulai menyampaikan isi hatinya kepada MakInang. “Ibuku, ada hal penting yang akan kusampaikan kepadamu.Ini masalah perasaanku saat ini. Aku mencintai seorang perempuanwarga kampung. Wajahnya sangat cantik. Tubuhnya pun indahdipandang mata. Sudah beberapa hari ini aku memendam rasarindu yang mendalam terhadapnya. Namun, ketika kudatangirumahnya dan kusampaikan maksud kedatanganku, ia menolakku.Celakanya, sampai hari ini aku

Cerita ini termasuk cerita berbingkai, sebagaimana cerita klasik pada umumnya. Judul aslinya adalah Hikayat Bayan Budiman yang ditransliterasi oleh Hani’ah. Cerita Hikayat Bayan Budiman ini digarap dengan sedikit perubahan sehingga dapat menjadi bahan bacaan siswa sekolah menegah atas.