Transcription

DETEKSI TITER ANTIBODI VIRUS AVIAN INFLUENZA (AI) MELALUISWAB KLOAKA PADA TELUR AYAM BEREMBRIO (TAB)DI BALAI VETERINER (BVet) BUKITTINGGIKARYA TULIS ILMIAHRIDHO ARFANDIE0F116022PROGRAM STUDI DIPLOMA III KESEHATAN HEWANFAKULTAS PETERNAKANUNIVERSITAS JAMBI2021

DETEKSI TITER ANTIBODI VIRUS AVIAN INFLUENZA (AI) MELALUISWAB KLOAKA PADA TELUR AYAM BEREMBRIO (TAB)DI BALAI VETERINER (BVet) BUKITTINGGIDisajikan Oleh :Ridho Arfandi (E0F116022)Dibawah bimbingan : Dr. drh. Hj. Fahmida Manin, M.PProgram Studi Diploma III Kesehatan Hewan Fakultas PeternakanUniversitas JambiAlamat kontak: Jl. Jambi-Ma.Bulian KM 15 Mendalo Darat Jambi 36361Email : [email protected] ini peternak ayam sering risau akan adanya serangan Virus AvianInflunza (AI) atau sering dikenal dengan Flu Burung. Sehingga dibutuhkandeteksi titer antibodi ayam terhadap Virus AI yang mana diperlukan pengujianSerologi. Deteksi titer antibodi Virus Avian Influenza dilaksanakan diLaboratorium Virologi Balai Veteriner (Bvet) Bukittinggi.Deteksi titer antibodiVirus Avian Influenzadilaksanakan dengan menggunakan swab kloaka ayam yangdi inokulasi pada media telur ayam berembrio (TAB) yang berumur 9-11 hari.Sampel yang di inokulasi pada TAB diinkubasi dengan suhu 35-37ºC dandipanen cairan allantoisnya setelah 4-5 hari. Kemudian dilakukan pengujianHemaglutinasi Assey (HA) setelah mendapatkan hasil pengujian HA makadilanjutkan dengan pengujian Hemaglutinasi Inhibition (HI) diamana sampeldiencerkan denganantigen 4 HA unit dan ditambahkan sel Darah Merah Ayam,kemudian diamkan di suhu kamar selama 50-60 menit. Sebanyak 293 sampelyang berasal dari 6 Kecamatan di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau diperolehhasil nagatif. Kemungkinan besar hal ini terjadi dikarenakan petugas setempatbelum melaksanakan kegiatan vaksinasi terhadap Virus Avian Influenza.Kata Kunci: Avian Influenza, Telur Ayam Berembrio, Titer Antibodi

DETEKSI TITER ANTIBODI VIRUS AVIAN INFLUENZA (AI) MELALUISWAB KLOAKA PADA TELUR AYAM BEREMBRIO (TAB)DI BALAI VETERINER (BVet) BUKITTINGGIKARYA TULIS ILMIAHOleh :RIDHO ARFANDIE0F116022Telah Diuji Dihadapan Tim PengujiPada hari Rabu Tanggal 16 bulan Juni Tahun 2021 dan dinyatakan LulusKetuaAnggota:::Dr. drh. Hj. Fahmida Manin, M.P.1. Drh. Anie Insulistyowati, M.P.2. Ir. Yusrizal, MSc., PhDMenyetujui :Dosen PembimbingDr. drh. Hj. Fahmida Manin, M.P.NIP. 196208311989022001Tanggal :Mengetahui :Wakil Dekan Bidang Akademik,Kerjasama dan Sistem InformatikaFakultas PeternakanUniversitas JambiKetua Program Studi DIIIKesehatan HewanFakultas PeternakanUniversitas JambiDr. Ir. Syafwan, M.Sc.NIP. 196902071993031003Tanggal :Dr. drh. Hj. Fahmida Manin, M.P.NIP. 196208311989022001Tanggal :

PERNYATAANDengan ini saya menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah (KTI) saya yangberjudul “Deteksi Titer Antibodi Virus Avian Influenza (AI) Melalui Swab KloakaPada Telur Ayam Berembrio (TAB) Di Balai Veteriner (Bvet) Bukittinggi” adalahkarya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggimanapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkanmaupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks yangdicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir dari karya tulis ilmiahini sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah yang berlaku.Jambi, Juni 2021Ridho Arfandi

RIWAYAT HIDUPPenulis dilahirkan di Tapan, pada tanggal 23September 1997. Dengan lima bersaudara, penulismerupakan anak terakhir dari pasangan M.Kisam danSiti Jawanis. Penulis menyelesaikan pendidikan dasardi SDN 05 Koto Pulai Tapan pada tahun 2010.Kemudian pendidikan menengah di MTsN 1 Tapanpada tahun 2013, dan pendidikan menengah atas diSMAN 1 Basa Ampek Balai Tapan pada tahun 2016.Tahun 2016 penulis diterima sebagai mahasiswi di Program StudiDiploma III Kesehatan Hewan Universitas Jambi melalui jalur Mandiri. Tanggal01 Februari sampai dengan 29 Maret tahun 2019 penulis melaksanakan PraktekKerja Lapang di Rumah Sakit Hewan Dinas Peternakan Dan Kesehatan HewanProvinsi Sumatera Barat dan Balai Veteriner (BVet) Bikittinggi. Sebagai salahsatu syarat memperoleh gelar Ahli Madya, penulis melakukan penulisan KaryaTulis Ilmiah dengan judul “Deteksi Titer Antibodi Virus Avian Influenza (AI)Melalui Swab Kloaka Pada Telur Ayam Berembrio (TAB) Di Balai Veteriner(Bvet) Bukittinggi” dibawah bimbingan Dr. drh. Hj. Fahmida Manin. M.P.Pada bagian ini, beberapa hal yang ingin penilis sampaikan dimana padaawal datang ke Jambi bukan karena melanjutkan study di Universitas Jambimelainkan sesuatu keinginan yang dijanjikan, sesampainya di Jambi hal tersebutperlahan mulai hening dan tanpa kabar alhasil keinginan itupun tidak pernahterwujud dan cukup mengecewakan. Dengan demikian secara terpaksa pilihankedua melanjutkan study harus diteruskan. Seiring berjalannya waktu semuakegiatan study berjalan dengan lancar, dan pada akhirnya tiba suatu masa dimanakebodohanpun terjadi yang membuat penulis terpukul dan begitu berpengaruhterhadap penyelesaian tugas akhir. Dengan adanya kejadian tersebut menjaditamparan sekaligus cukup banyak pembelajaran yang diperoleh. Ucapanterimakasih khusus penulis ucapkan untuk seseorang yang selalu support padakala itu. Buat teman-teman Lelek, Kayo, Aldo, Sueb, Masro, Sebhek, Jendril,Krisna, Agik, Cici, Mesi, Al, Aan, dan semua anak kelas, apakah kalian supportatau tidak penulis ucapkan terikasih dan sukses selalu untuk kalian semua.

PRAKATAPuji syukur penulis curahkan kepada Allah SWT yang telah memberikanrahmat dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah (KTI)yang berjudul Deteksi Titer Antibodi Virus Avian Influenza (AI). Penulismengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantudalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini , terutama kepada :Ucapan terima kasih Kami disampaikan pada ;1. Dr. Ir. Agus Budiansyah, M.S. selaku Dekan Fakultas PeternakanUniversitas Jambi2. Dr. drh. Hj. Fahmida Manin, M.P. selaku Ketua Program Studi DiplomaIII Kesehatan Hewan Fakultas Peternakan Universitas Jambi sekaligussebagai Dosen Pembimbing Karya Tulis Ilmiah.3. Muhammad Farhan, S.Pt, MP. Selaku Pembimbing Akademik4. Drh. Gigih Tri P, MM. selaku Kepala Balai Veteriner (BVet) BukitTinggi.5. Drh. Rudi Harso N., M.Biomed selaku Kasie Pelayanan Teknik BalaiVeteriner (BVet) Bukit Tinggi.6. Rio Nurwan, A.Md selakupembimbing Praktek Kerja Lapang diLaboratorium Virology Balai Veteteriner (Bvet) Bukit Binggi.7. Kedua orang tua dan seluruh keluarga, teman-teman terdekat sertaberbagai pihak yang telah memberikan motivasi, dukungan, serta doa yangtidak henti-hentinya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya TulisIlmiah ini.Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini diharapkan bisa menjadi tambahan ilmupengetahuan bagi penulis, maupun bagi pembaca yang lainnya. Tak luput pulaterimkasih atas saran dan masukan terhadap perbaikan Karya Tulis Ilmiah untukkedepannya.Jambi,Juni 2021Ridho Arfandii

DAFTAR ISIHalamanRINGKASAN .LEMBAR PENGESAHAN .LEMBAR PERNYATAAN .RIWAYAT HIDUP .PRAKATA . iDAFTAR ISI . iiDAFTAR TABEL . ivDAFTAR GAMBAR . vBAB I PENDAHULUAN . 11.1 Latar Belakang . 11.2 Rumusan Masalah . 21.3 Tujuan . 21.4 Manfaat . 2BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 32.1 Antibodi . 32.2 Afian Influenza (H5N1) . 32.3 Inokulasi Telur Ayam Berembrio (TAB) . 122.4 Hemaglutinasi Assey (HA) . 122.5 Hemaglutinasi Inhibition (HI) . 13BAB III METERI DAN METODA . 153.1 Waktu dan tempat . 153.2 Materi dan Peralatan Kegiatan . 153.3 Metode Kegiatan . 163.3.1 Pembuatan Inokulum . 163.3.2 Persiapan Telur Ayam Berembrio . 163.3.3 Inokulasi Telur Ayam Berembrio (TAB) . 173.3.4 Pemanenan Cairan Allantois . 173.3.5 Uji Hemaglutinasi (HA) . 183.3.6 Uji Hemaglutinasi Inhibition (HI). 19BAB IV HASIL PEMBAHASAN . 204.1 Koleksi Sampel . 204.2 Inokulasi Telur Ayam Berembrio (TAB) . 214.3 Uji Hemaglutinasi (HA) . 224.4 Uji Hemaglutinasi Inhibition (HI) . 23BAB V PENUTUP. 275.1 Kesimpulan . 275.2 Saran . 27DAFTAR PUSTAKA . 28ii

DAFTAR TABELTabelHalaman1. Jumlah sampel dari masih-masing ternak . 212. Populasi unggas Kabupaten Kampar. 213. Hasil inokulasi pada telur berembrio (TAB) . 214. Hasil uji HA sampel swab koaka Ayam. 225. Hasil uji HI swab kloaka Ayam . 23iii

DAFTAR GAMBARGambarHalaman1. Struktur Virus Afian Influenza. 52. Eritrosit Ayam . 153. Serum Antigen AI . 154. Cairan Allantois . 155. Telur Ayam Berebrio (TAB) . 156. Sampel Swab Kloaka Dalam Bentuk Inokulum. 167. Persiapan TAB . 178. Inokulasi sampel. 179. Gambar Candling TAB . 1710. Gambar Panen Caiaran Allantois . 1711. Isolasi PBS ke Mikroplate . 1812. Isolasi Cairan Alantois . 1813. Sampel Swab Kloaka . 2014. Hasil pengujian HA . 2315. Hasil Pengujian HI . 24iv

BAB IPENDAHULUAN1.1Latar BelakangAntibodi adalah bagian dari sistem kekebalan yang bekerja untukmelindungi tubuh dari bahaya virus, bakteri, kuman zat-zat asing yang dapatmenyebabkan penyakit infeksi.Antibodi merupakan zat yang dihasilkan tubuhsetelah terpapar oleh suatu antigen. Antibodi ini dapat berupa antibakteri,antivirus maupun antitoksin, bergantung dari antigen yang masuk. Sistemimunitas tubuh hewan akan menghasilkan antibodi sesuai dengan bentuk danjumlah antigen yang akan dilawan. Hal ini bertujuan agar antibodi dapatmenempel pada antigen untuk melawannya sehingga antigen tidak dapatberkembang dan menyebabkan infeksi.Antigen adalah partikel atau senyawa yang dapat merangsang sistemimunitas tubuh untuk menghasilkan antibodi sebagai bentuk perlawanan. Antigendi dalam tubuh bisa berbentuk bakteri, virus, patogen atau bahan kimia tertentuyang membahayakan tubuh. Sistem imunitas menganggap antigen sebagai zatasing yang bisa mengancam kesehatan tubuh.Penyakit flu burung (bird flu, avian influenza/AI) ialah penyakit yangdisebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan antar unggas. Unggaspenular tersebut ialah burung, bebek, ayam. (Mulyadi & Prihartini, 2006).VirusAI pada awalnya hanya menyerang unggas, dan berdasarkan atas patogenitasnyadibedakan menjadi 2 bentuk yaitu Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI) danHighly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) (Wibawan et al., 2009). Flu burungbersifat zoonosis yang sangat dikuatirkan di Indonesia. Kekhawatiran tidak hanyadisebabkan oleh keganasan serangan penyakit pada ternak unggas yang telahmenimbulkan kerugian yang luar biasa. Agen penyebab flu burung adalah virusAvian influenza subtipe H5N1 populer di Indonesia sejak pertengahan tahun 2003,dan sampai saat ini telah merambah ke semua propinsi (Darmawi et al., 2012).Sejalan dengan banyaknya sistem untuk isolai virus, diperlukan mediayang sederhana namun akurat. Diantara banyaknya media yang digunakan untukisolasi virus, Telur Ayam Berembrio merupakan salah satu media yang telah lamadigunakan sebagai media isolasi berbagai tipe virus yang berbeda melalui media1

yang sederhana dan mudah diperoleh. Penggunaan telur sebagai media inokulasidisarankan berasal dari kelompok yang bebas dari patogen atau menggunakantelur dari kelompok bebas antibodi apapun.1.2PermasalahanPemilihan media Inokulasi telur ayam berembrio dilakukan beralasanbahwa media yang dibutuhkan tidak telalu rumit dan tidak menghabiskan banyakbiaya karena telah tersedia di kandang pemeliharaan BBVet Bukittinggi. Bukanhanya itu, media Telur Ayam Berembrio (TAB) merupakan salah satu metodeyang efisien untuk mengidentifikasi anti bodi dan titer antigen terhadap virusA5N1. Menurut Sri Murtini (2006) Metode pengujian in vivo memiliki beberapakeunggulan dibandingkan pengujian in vitro dengan menggunakan kultur selkarena tidak memerlukan media dan kondisi laboratorium yang rumit sehinggabiaya yang dibutuhkan relatif murah. Telur berembrio sebagai suatu sistembiologis yang dinamis diharapka menggambarkan kondisi in vivo. Kondisi in vivoyang dimaksudkan adalah adanya metabolisme dan perkembangan sel–sel embriodi dalam telur yang berlangsung terus menerus. Bahan-bahan kimia, termasuk zatantivirus, juga dapat diinokulasikan ke dalam telur.1.3TujuanPenulisan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui bagaimanacara dan prosedur kerja identifikasi titer antibodi ayam terhadap antigen virusAfian Influnza (A5N1) dengan sampel swab kloaka pada media telur ayamberembrio.1.4ManfaatManfaat dari penulisan Karya Tulis Ilmiah Ini agar bisa mengetahui danmemahami prosedur kerja idenfikasi titer antobodi ayam tehadap titet antigenvirus Afian Influnza (A5N1) di media telur ayam berembrio yang nantinya akanmenambah wawasan mahasiswa terhadap inokulasi telur ayam berembrio.2

BAB IITINJAUAN PUSTAKA2.1AntibodiAntibodi merupakan biomolekul yang tersusun atas protein dan dibentuksebagai respon terhadap keberadaan benda-benda asing yang tidak dikehendaki didalam tubuh, benda-benda asing itu disebut antigen. Tiap kali ada benda-bendaasing yang masuk ke dalam tubuh diperlukan 10-14 hari untuk membentukantibodi. Antibodi digunakan untuk menetralkan atau menghancurkan antigenyang masuk ke dalam tubuh. Setiap detik sekitar 2.000 molekul antibodidiproduksi oleh sel-sel B. Antibodi dapat ditemukan pada aliran darah dan cairannonseluler. Antibodi memiliki struktur molekul yang bersesuaian dengan antigensecara sempurna, seperti anak kunci dengan lubangnya. Tiap jenis antibodispesifik terhadap antigen jenis tertentu (Aripin, 2019).2.2Afian Influenza (H5N1)Penyakit Avian Influenza (AI) merupakan penyakit infeksius yang sangatpenting pada unggas yang disebabkan oleh virus Avian Influenza. Penyakit inipertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 2003 dan telah menyebar secara luasmenyebabkan kerugian ekonomi yang besar dan kematian yang tinggi padapeternakan-peternakan unggas. Dewasa ini wabah penyakit AI masih seringterjadi secara sporadis meskipun pada peternakan yang telah rutin divaksin AI(Kurniasih, 2015).Tanda dan gejala pada unggas yang sakit beragam, mulai dari gejala ringansampai sangat berat. Hal ini bergantung keganasan virus, lingkungan, dan keadaanunggas sendiri. Gejala awal berupa penurunan produksi telur. Gejala yang timbulseperti jengger berwarna biru, kepala bengkak, sekitar mata bengkak, demam,diare, gangguan pernapasan berupa batuk, bersin, depresi dan tidak mau makan.Di beberapa kasus, unggas mati tanpa gejala. Kematian terjadi setelah 24 jamtimbul gejala. Di kalkun, kematian dapat terjadi dalam 2–3 hari (Mulyadi DanPrihartini, 2006).3

Virus dapat ditransmisikan secara langsung melalui inhalasi aerosol ataudebu yang terkontaminasi, dan atau secara tidak langsung melalui air minum,makanan yang terkontaminasi atau karkas yang terinfeksi. Transmisi virus darisuatu tempat ke daerah lainnya terutama disebabkan oleh perpindahan unggasterinfeksi, makanan, peralatan, kendaraan. Kemungkinan keterpaparan virussangat sering terjadi karena kontak antara unggas dengan unggas lainnya dimanasangat mungkin unggas yang bercampur dengan hewan lainnya merupakan hewanpembawa virus (carrier) yang menyebarkan virus ke lingkungan (Darmawi et al,2012 ).2.2.1 EtiologiPenyebab avian influenza (AI) merupakan virus ss-RNA yang tergolongfamily Orthomyxoviridae, dengan diameter 80-120 nm dan panjang 200-300 nm.Virus ini memiliki amplop dengan lipid bilayer dan dikelilingi sekitar 500tonjolan glikoprotein yang mempunyai aktivitas hemaglutinasi (HA) dan enzimneuraminidase (NA). Virus influenza dibedakan atas 3 tipe antigenik berbeda,yakni tipe A, B dan C. Tipe A ditemukan pada unggas, manusia, babi, kuda danmamalia lain, seperti cerpelai, anjing laut dan paus. Tipe B da C hanya ditemukanpada manusia (Syibli et al., 2014).Virus AI tipe A tersusun atas 8 segmen gen yang memberikan 10 sandiprotein, yaitu polymerase basic-2 (PB2), polymerase basic-1 (PB1), polymeraseacidic (PA), hemaglutinin (HA), nukleoprotein (NP), neuraminidase (NA), matrix(M) dan non-struktural (NS). Masing-masing segmen memberikan satu macamsandi protein, kecuali segmen M memberikan sandi protein M1 dan M2, sertasegmen NS memberikan sandi protein NS1 dan NS2. Berat molekul proteinberturut-turut adalah: 87, 96, 85, 77, 50-60, 48-63, 24, 15, 26, dan 12 kDa. ProteinHA dan NA merupakan protein terpenting di dalam menimbulkan respons imundan sebagai penentu subtype virus AI. Berdasarkan perbedaan genetik antar virusAI, sehingga sekarang telah diketahui adanya 16 subtipe hemaglutinin (H1-16)dan 9 subtipe neuraminidase (N1-9) (Syibli, et al., 2014)4

Gambar 1; Struktur virus Afian Influenza2.2.2 Sifat Alami VirusVirus AI mudah mati oleh panas, sinar matahari dan desinfektan (deterjen,ammonium kuartener, formalin 2-5%, iodium kompleks, senyawa fenol,natrium/alium hipoklorit). Panas dapat merusak infektifitas virus AI. Pada suhu56ºC, virus AI hanya dapat bertahan selama 3 jam dan pada 60ºC selama 30menit. Pelarut lemak seperti deterjen dapat merusak lapisan lemak ganda padaselubung virus. Kerusakan selubung virus ini mengakibatkan virus influenzamenjadi tidak infektif lagi. Faktor lain adalah pH asam, nonisotonik dan kondisikering. Senyawa ether atau sodium dodecylsulfate akan mengganggu amploptersebut, sehingga merusak protein hemaglutinin dan neuramidase. Mediapembawa virus berasal dari ayam sakit, burung, dan hewan lainnya, pakan,kotoran ayam, pupuk, alat transportasi, rak telur (egg tray), serta peralatan yangtercemar. Strain yang sangat ganas (virulen) dan menyebabkan Flu Burung adalahsubtype A H5N1. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari padasuhu 22 C dan lebih dari 30 hari pada 0 C (Syibli et al., 2014).2.2.3 Pengaruh Lingkungan Terhadap VirusVirus AI dikenal sebagai virus yang mudah mengalami mutasi, yaituperubahan yang menyangkut nukleotida atau asam amino di dalam gen. Pengaruhperjalanan waktu dan perbedaan inang telah menyebabkan perubahan tersebutterjadi. Sebagai contoh, subtipe H5N1 yang menginfeksi manusia di Hongkongpada 1997 mengandung 8 segmen gen virus AI yang berasal dari unggas di5

Eurasia. Meskipun virus ini berhasil dimusnahkan dengan jalan membakar semuaunggas yang ada di Hongkong, tetapi gen HA muncul sebagai donor pada H5N1angsa di Cina Tenggara. Munculnya genotipe baru ini sangat mematikan padaayam tetapi tidak pada itik. Selama 5 tahun berikutnya tidak ada variasi genetikdan baru pada akhir 2002 terjadi mutasi. Tampaknya mutasi H5N1 ini menjadicikal bakal flu burung di Asia, terbukti menimbulkan kematian pada ayam dankorban jiwa manusia (Syibli et al., 2014).2.2.4 Sifat PenyakitBerdasarkan patotipenya, virus AI dibedakan menjadi Highly PathogenicAvian Influenza (HPAI) atau tipe ganas dan Low Pathogenic Avian Influenza(LPAI) atau tipe kurang ganas. Tanda yang paling menciri untuk HPAI adalahtingkat kematian yang tinggi yang mencapai 100%. Selama ini virus AI yangbersifat HPAI adalah H5 dan H7. Karena mudah bermutasi maka keganasan virusAI ditentukan oleh waktu, tempat dan inang yang terinfeksi. Artinyawalaupunsama-sama H5 yang menginfeksi belum tentu menunjukkan keganasanyang sama. Target jaringan atau organ dari virus ini dapat mempengaruhipatogenisitasnya. Virus yang terbatas menyerang saluran pernapasan ataupencernaan akan menyebabkan penyakit yang berbeda dengan yang bersifatsistemik atau mencapai organ vital lainnya. Sebagian besar jenis unggas air liarlebih resisten dibanding unggas piaraan. Virus AI pada unggas liar mungkin tidakmenimbulkan gejala sakit, tetapi dapat menjadi sangat ganas pada ayam rasmaupun bukan ras (Syibli et al., 2014).2.3Penyebaran Penyakit Di Indonesia2.3.1 Cara PenularanDi Indonesia, Avian influenza yang mewabah sejak pertengahan tahun2003. Selain menyerang unggas, virus AI juga menginfeksi manusia, sehinggamembuat Indonesia menjadikan satu-satunya negara dengan angka kejadian dankematian tertinggi di dunia. Jenis hewan yang tertular adalah ayam layer dipeternakan komersial. Penyebaran secara cepat terutama melalui perdaganganunggas (Syibli et al., 2014).Dari bulan Agustus 2003 sampai Februari 2004 terjadi wabah penyakitunggas yang menyebabkan kematian unggas sebesar 6,4% dari populasi unggas di6

wilayah seluruh Propinsi yang ada di Pulau Jawa, Propinsi Kalimantan Selatan,Propinsi Bali, Propinsi Kalimantan Tengah dan Propinsi Lampung. Spesiesunggas tertular yang dilaporkan adalah ayam petelur (layer), ayam pedaging(broiler), ayam buras, itik, entok, angsa, burung unta, burung puyuh, burungmerpati, burung merak putih, burung perkutut.Penetapan daerah tertular avianinfluenza dilihat berdasarkan adanya laporan kasus kematian unggas yangdisebabkan oleh virus avian influenza dengan diagnosa klinis, patologi anatomi,epidemiologis, dan dikonfirmasi secara laboratoris (Syibli et al., 2014).2.3.2 Masa InkubasiPenularan dapat terjadi melalui kontak langsung dari unggas terinfeksi danunggas peka melalui saluran pernapasan, konjungtiva, lendir dan feses; atausecara tidak langsung melalui debu, pakan, air minum, petugas, peralatankandang, sepatu, baju dan kendaraan yang terkontaminasi virus AI serta ayamhidup yang terinfeksi. Unggas air seperti itik dan entog dapat bertindak sebagaicarrier (pembawa virus) tanpa menujukkan gejala klinis. Unggas air biasanyaberperan sebagai sumber penularan terhadap suatu peternakan ayam atau kalkun(Syibli et al., 2014).Masa inkubasi bervariasi dari beberapa jam sampai 3 (tiga) hari padaindividual unggas terinfeksi atau sampai 14 hari di dalam flok.Burung migrasi,manusia dan peralatan pertanian merupakan faktor beresiko masuknya penyakit.Pasar burung dan pedagang pengumpul juga berperanan penting bagi penyebaranpenyakit. Media pembawa virus berasal dari ayam sakit, burung, dan hewanlainnya, ,pakan, kotoran ayam, pupuk, alat transportasi, rak telur (egg tray), sertaperalatan yang tercemar. Manusia menyebarkan virus ini dengan memindahkandan menjual unggas sakit atau mati (Syibli et al., 2014).2.3.3 Gejala KlinisGejala klinis yang terlihat pada ayam penderita HPAI antara lain adalah,jengger, pial, kelopak mata, telapak kaki dan perut yang tidak ditumbuhi buluterlihat berwarna biru keunguan. Adanya perdarahan pada kaki berupa bintikbintik merah (ptekhie) atau biasa disebut kerokan kaki. Keluarnya cairan darimata dan hidung, pembengkakan pada muka dan kepala, diare, batuk, bersin danngorok. Nafsu makan menurun, penurunan produksi telur, kerabang telur lembek.7

Adanya gangguan syaraf, tortikolis, lumpuh dan gemetaran. Kematian terjadidengan cepat. Sementara itu pada LPAI, kadang gejala klinis tidak terlihat denganjelas (Syibli et al., 2014).2.3.4 Patologi KlinisPada nekropsi (bedah bangkai) yang terlihat adalah perdarahan umum,edema, hiperemi atau ptekhie pada hampir seluruh bagian tubuh, kondisi inisangat sulit dibedakan dariNewcastle Desease(ND) ganas. Selain itu ditemukanedema subkutan. Perubahan pada nekropsi mungkin sangat bervariasi sejalandengan umur, spesies, dan patogenisitas virus. Beberapa ciri lesi tipikal dapatberupa, edema subkutan pada daerah kepala dan leher, kongesti dan ptekhiekonjunctiva, trakea dilapisi mukus atau hemorragik, kongesti dan timbunan uratdalam ginjal, ptekhie pada proventrikulus, tembolok, usus, lemak abdominal danperitoneum. Ovarium pada ayam petelur terlihat hemorragik atau nekrotik,kantung telur terisi dengan kuning telur yang ruptur sehingga sering terlihatadanya peritonitis dan peradangan pada kantung udara. Sering pada ayam mudayang mati perakut terlihat adanya dehidrasi dan kongesti otot yang parah.Bentuk RinganTerjadi radang nekrotik pada proventikulus dekatperbatasan dengan ventrikulus, pankreas bewarna merah tua dan kuning muda,terdapat eksudat (kataralis, fibrinous, serofibrinous, mukopurulen atau kaseus)pada trachea, penebalan kantong udara berisi eksudat fibrinous atau kaseus,peritonitis fibrinous dan peritonitis, enteritis kataralis sampai fibrinous danterdapat eksudat di dalam oviduct.Bentuk Akut Bila mati dalam waktu singkat tidak akan ditemukanperubahan makroskopik tertentu. Pada stadium awal terlihat edema kepala yangdisertai dengan pembengkakan sinus, sianosis, kongesti dan hemorragik pada pialdan jengger, kongesti dan haemorrhagi pada kaki, dan nekrosis pada hati, limpa,ginjal serta paru-paru (Syibli et al., 2014).2.3.5 DiagnosaDiagnosa lapangan dengan melihat gejala klinis dan patologi anatomi.Secara laboratorium diagnosa dapat ditegakkan secara virologis dengan carainokulasi suspensi spesimen (suspensi swab hidung dan trakea, swab kloaka dan8

feses atau organ berupa trakea, paru, limpa, pankreas dan otak) pada telurberembrio umur 9 – 11 hari (3 telur per spesimen).Identifikasi dapat dilakukan secara serologis, antara lain dengan uji AgarGel Immunodifusion (AGID), uji Haemagglutination Inhibition (HI). Penentuanpatogenisitas virus dilakukan dengan cara menyuntikkan isolat virus dari cairanalantois secara intravena (IV) pada 10 ekor anak ayam umur 6 minggu atau 4 – 8minggu. Jika mati 6 ekor atau lebih dalam 10 hari, atau Intravena patogenicityindex (IVPI) 1,2 dianggap HPAI. Secara molekuler keberadaan virus AI dapatdideteksi dengan reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR), realtime RT-PCR atau sekuensing genetik (Syibli et al., 2014).2.3.6 Diagnosa BandingAvian Influenza sering dikelirukan dengan Newcastle Disease (ND),Infectious Laryngotrachaetis (ILT), Infectious Bronchitis (IB), Fowl cholera daninfeksi Escherichia coli. Untuk menentukan keakuratan diagnosa perlu dilakukanuji spesimen labolarorium. Spesimen yang diambil untuk uji serologi adalahserum, sedangkan untuk uji virologi adalah swab hidung dan trakea, swab kloakadan feses, paru, limpa, pankreas dan otak. Baik jaringan organ segar maupunspesimen swab harus dikirim dalam media transpor ke laboratorium. Pengirimanspesimen harus dijaga dalam keadaan dingin dan dikirimkan ke LaboratoriumVeteriner setempat (Syibli et al., 2014).2.3.7 PengobatanBelum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan Avian Influenza. Usahayang dapat dilakukan adalah membuat kondisi badan ayam cepat membaik danmerangsang nafsu makannya dengan memberikan tambahan vitamin dan mineral,serta mencegah infeksi sekunder dengan pemberian antibiotik. Dapat puladiberikan pemanasan tambahan pada kandang (Syibli et al., 2014).2.4Pencegahan2.4.1 encegahsemuakemungkinan penularan (kontak) dengan peternakan tertular dan penyebaranpenyakit melalui pengawasan lalu lintas dan tindak karantina (isolasi) lokasi9

peternakan tertular dan lokasi tempat-tempat penampunga

(Bvet) Bukittinggi” dibawah bimbingan Dr. drh. Hj. Fahmida Manin. M.P. Pada bagian ini, beberapa hal yang ingin penilis sampaikan dimana pada awal datang ke Jambi bukan karena melanjutkan study di Universitas Jambi melainkan sesuatu kei